Berdasarkan keterangan dari founder startup binaan ITB Mantis Agritech, Mochammad Agoes Moelyadi, drone ciptaan mereka mengusung desain hybrid dengan sayap tandem yang memungkinkan pesawat terbang dengan kecepatan rendah sehingga mampu merekam objek di area batas negara secara presisi.
Selain presisi, efisiensi aerodinamis sayap tandem tersebut mampu menembus durasi terbang hingga 50 menit jauh melampaui kemampuan quadcopter konvensional yang rata-rata hanya bertahan 15 menit menggunakan kapasitas baterai sejenis.
Kelebihan daya jelajah dan durasi ini dinilai sangat ideal untuk mendukung pemantauan udara jangka panjang di wilayah terpencil dan perbatasan darat seperti Kalimantan hingga Papua.