NADIKABAR.COM — Di tengah kondisi ekonomi yang belum menentu, masyarakat Indonesia dari berbagai lapisan menghadapi perjuangan yang sama, yakni bertahan hidup di tengah tekanan biaya kebutuhan sehari-hari. Kenaikan harga sejumlah kebutuhan, persaingan mendapatkan pekerjaan, serta penghasilan yang tidak selalu sebanding dengan pengeluaran membuat masyarakat kelas bawah hingga kelas menengah harus semakin cermat mengatur keuangan.

Bagi sebagian warga, memenuhi kebutuhan makan, membayar tempat tinggal, dan mencukupi kebutuhan keluarga menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap hari.

Bagi pekerja sektor informal, seperti pengemudi ojek daring (ojol), perjuangan mencari nafkah dimulai sejak pagi hingga malam. Angga Yudistia (38), salah seorang pengemudi ojol dengan tiga anak, mengatakan penghasilan hariannya sekitar Rp 100 ribu. Jumlah tersebut masih pendapatan kotor, yang harus dikurangi biaya bahan bakar, makan, dan kebutuhan operasional lainnya.

Tekanan ekonomi juga mendorong sebagian pekerja kantoran mencari penghasilan tambahan dengan menjadi pengemudi ojol selepas jam kerja. Setelah menghabiskan waktu seharian di kantor, mereka turun ke jalan untuk menerima pesanan demi menambah pemasukan. Waktu istirahat dan berkumpul bersama keluarga pun harus dikorbankan agar kebutuhan hidup tetap terpenuhi.

Perjuangan mencari nafkah tersebut berlangsung di tengah tantangan pasar kerja nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional Mei 2026, jumlah penganggur di Indonesia mencapai 7,22 juta orang dengan tingkat pengangguran terbuka sebesar 4,65 persen.

Sementara itu, jumlah angkatan kerja mencapai 155,41 juta orang, dengan 148,19 juta orang di antaranya telah bekerja. Dibandingkan Februari 2026, jumlah penganggur berkurang sekitar 24 ribu orang, sedangkan jumlah penduduk bekerja bertambah sekitar 522 ribu orang.

Meski menunjukkan perbaikan, jutaan orang belum juga memperoleh pekerjaan. Bagi sebagian masyarakat, kebutuhan hidup yang terus berjalan mendorong mereka mencari penghasilan tambahan, mengambil pekerjaan informal, atau memperpanjang jam kerja demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Data Pusat Pasar Kerja Kementerian Ketenagakerjaan melalui platform Pasker ID juga mencatat sebanyak 2.052.460 lowongan pekerjaan dipublikasikan pada periode Januari 2025 hingga September 2026, dengan kebutuhan tenaga kerja mencapai 2.737.793 orang. Angka tersebut hanya mencakup lowongan yang tercatat melalui platform Pasker ID, bukan keseluruhan lowongan pekerjaan di Indonesia.

Di tengah persaingan memperoleh pekerjaan, keterbatasan kesempatan kerja membuat sebagian masyarakat harus terus mencari peluang untuk mendapatkan penghasilan. Bagi mereka yang belum memperoleh pekerjaan, setiap kesempatan menjadi harapan untuk kembali membangun kehidupan yang lebih baik.

Tekanan ekonomi juga terlihat di pasar-pasar tradisional yang menjadi tempat masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kenaikan harga sejumlah bahan pokok membuat sebagian warga lebih berhati-hati saat berbelanja. Mereka membandingkan harga, mengurangi jumlah belanjaan, hingga mengurungkan niat membeli sejumlah bahan kebutuhan karena khawatir pengeluaran semakin membengkak.

Kondisi ini juga dirasakan pedagang ketika pembeli semakin selektif dalam membelanjakan uangnya. Di tengah kebutuhan yang tetap harus dipenuhi, warga dihadapkan pada pilihan sulit antara membeli bahan pangan atau menghemat uang untuk kebutuhan lainnya.