BPS mencatat inflasi Indonesia pada September 2026 mencapai 3,28 persen secara tahunan, sedangkan inflasi bulanan tercatat sebesar 0,30 persen. Inflasi tersebut menggambarkan perubahan harga barang dan jasa secara umum, sehingga tidak berarti seluruh komoditas mengalami kenaikan harga yang sama.

Namun perubahan harga kebutuhan sehari-hari tetap menjadi perhatian bagi rumah tangga yang sebagian besar pendapatannya digunakan untuk konsumsi. Bagi keluarga dengan penghasilan terbatas, perubahan pengeluaran untuk makanan dapat memengaruhi kemampuan mereka memenuhi kebutuhan lain, mulai transportasi hingga biaya pendidikan anak.

Tekanan ekonomi juga dirasakan kalangan kelas menengah yang selama ini memiliki penghasilan relatif stabil. Sebagian mulai mengubah kebiasaan konsumsi dan menurunkan standar hidup yang sebelumnya mampu mereka pertahankan. Pekerja yang dahulu terbiasa makan di kantin kini beralih ke warung Tegal (warteg) yang menawarkan makanan lebih terjangkau.

Upaya berhemat juga dilakukan dengan memperpanjang usia pakai barang-barang yang dimiliki. Baju atau celana yang robek dan rusak sebisa mungkin diperbaiki dengan cara dijahit agar masih dapat digunakan, daripada harus mengeluarkan uang untuk membeli yang baru. Bagi mereka, penghematan sekecil apa pun menjadi penting agar kebutuhan lain yang lebih mendesak tetap terpenuhi.

Gambaran kesulitan ekonomi juga tecermin pada data kemiskinan nasional. BPS mencatat jumlah penduduk miskin Indonesia pada Maret 2026 mencapai 22,93 juta orang atau 8,07 persen dari total penduduk. Pada periode yang sama, garis kemiskinan nasional tercatat sebesar Rp 669.235 per kapita per bulan. Garis kemiskinan merupakan batas minimum pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan dasar, bukan ukuran biaya hidup layak bagi seluruh masyarakat.

Meski demikian, angka tersebut menunjukkan jutaan penduduk masih hidup dengan keterbatasan ekonomi. Bagi keluarga berpenghasilan rendah, kebutuhan pangan sering kali menjadi prioritas utama, sementara biaya pendidikan, kesehatan, tempat tinggal, dan kebutuhan lainnya harus disesuaikan dengan kemampuan keuangan.

Di lapisan masyarakat bawah, perjuangan bertahan hidup kerap berlangsung lebih keras karena terbatasnya pilihan. Penghasilan yang diperoleh hari ini sering kali langsung digunakan untuk membeli makanan dan memenuhi kebutuhan paling mendasar. Tidak banyak ruang untuk menabung, mempersiapkan masa depan, atau menghadapi pengeluaran mendadak.

Fenomena in this economy menggambarkan bagaimana masyarakat beradaptasi menghadapi tekanan ekonomi, mulai pengemudi ojol yang mengejar pesanan, pekerja kantoran yang mencari penghasilan tambahan selepas bekerja, pedagang pasar yang menunggu pembeli, hingga keluarga berpenghasilan rendah yang berjuang memenuhi kebutuhan makan. Di balik rutinitas tersebut, tersimpan cerita tentang pengorbanan, keterbatasan, dan harapan. Bagi mereka, perjuangan ekonomi bukan sekadar persoalan angka dan statistik, melainkan kenyataan sehari-hari: bagaimana mendapatkan uang hari ini agar keluarga tetap bisa makan hari ini.

Pedagang menunggu pembeli yang sepi di kawasan salah satu pusat perbelanjaan Jakarta

Aini dan Dinda belajar di salah satu kontrakan petakan. Mereka berdua putus sekolah karena tidak punya biaya.