NADIKABAR.COM — Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) Arif Haendra menegaskan hilirisasi aluminium terbukti meningkatkan nilai tambah bauksit sekaligus mendorong penerimaan negara, penciptaan lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi daerah.
Arif menjelaskan, peningkatan nilai tambah terjadi melalui pengolahan bauksit menjadi alumina, kemudian menjadi aluminium hingga produk turunannya yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
"40 dolar AS harga bauksit ini, kalau menjadi alumina harganya sekitar 400-an (dolar AS). Artinya sudah 10 kali lipat naik," kata Arif dikutip di Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan, pengolahan bauksit menjadi alumina membutuhkan biaya proses sekitar 250–300 dolar AS per ton. Dengan harga alumina sekitar 400 dolar AS per ton, terdapat selisih sekitar 100 dolar AS per ton sebelum memperhitungkan biaya lainnya.