Kondisi tersebut turut menekan kinerja keuangan perseroan yang membukukan rugi sebelum pajak Rp1,74 triliun. Tanpa memperhitungkan kerugian selisih kurs, rugi sebelum pajak tercatat Rp913,29 miliar.
Achmad Sadikin mengatakan, Perseroan terus mengoptimalkan kapasitas, produktivitas armada, dan pendapatan per penerbangan untuk menjaga efisiensi di tengah tekanan biaya.
“Kami memaksimalkan setiap instrumen yang berada dalam kendali kami, mulai dari pengelolaan kapasitas dan produktivitas armada, hingga optimalisasi pendapatan per penerbangan serta pengendalian biaya. Prioritas kami bukan sekadar menambah frekuensi penerbangan, melainkan memastikan setiap penerbangan menghasilkan imbal hasil ekonomi yang lebih kuat,” ujarnya.
Dari total pendapatan, penjualan tiket penumpang berkontribusi sebesar Rp4,96 triliun, sementara pendapatan layanan tambahan (ancillary revenue) mencapai Rp822,53 miliar yang diperoleh dari layanan bagasi, hidangan dalam pesawat, penerbangan charter, dan kargo udara.
Memaksimalkan ragam sumber pendapatan ini menjadi bagian inti dari strategi untuk meningkatkan nilai ekonomi per penerbangan sekaligus memperkuat ketahanan model bisnis Indonesia AirAsia.
Memasuki sisa tahun ini, Perseroan akan terus memprioritaskan jaringan rute dengan permintaan yang berkelanjutan, meningkatkan utilisasi armada secara selektif, serta menangkap lonjakan permintaan perjalanan pada periode libur akhir tahun (peak season).