Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kemenko Perekonomian Elen Setiadi mengatakan penetapan tapak tersebut akan mempertimbangkan teknologi PLTN yang akan dipilih.

Elen menyebut terdapat sejumlah pilihan teknologi dan mitra yang berminat bekerja sama dengan Indonesia, antara lain dari Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, dan Rusia.

Ia menilai pengembangan PLTN menjadi salah satu bagian dari upaya menyediakan energi yang cukup, andal, kompetitif, dan berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi.

Apalagi, lanjut dia, kebutuhan listrik nasional diproyeksikan meningkat hingga 600 terawatt hour (TWh), dengan konsumsi mendekati 2.000 kilowatt hour (kWh) per kapita pada 2030.