Pendapatan tambahan dari pelanggan industri dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperbarui fasilitas pengolahan, memperluas jaringan perpipaan, serta meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Dengan demikian, pertumbuhan industri digital berpotensi memberikan dampak positif terhadap pengembangan infrastruktur air, sepanjang kebutuhan rumah tangga tetap menjadi prioritas utama.

Selain itu, penggunaan air oleh data center tidak selalu berasal dari sumber atau alokasi yang sama dengan kebutuhan masyarakat. Setiap daerah memiliki karakteristik berbeda terkait ketersediaan air baku, kapasitas pengolahan, dan jaringan distribusi.

Di Kabupaten Purwakarta, misalnya, pemerintah daerah menjelaskan adanya alokasi air baku untuk sistem penyediaan air minum yang kapasitasnya belum dimanfaatkan sepenuhnya.

Sebagian kapasitas yang tersedia tersebut berpotensi digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri, termasuk data center, dengan tetap mengutamakan pelayanan air bersih bagi masyarakat.

Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan penggunaan air oleh pusat data harus dilihat berdasarkan kapasitas dan daya dukung wilayah, bukan semata-mata besarnya konsumsi.

Teknologi Pendinginan Jadi Kunci Efisiensi

Selain pengelolaan sumber air, pemilihan teknologi pendinginan menjadi faktor penting dalam menentukan tingkat konsumsi air sebuah data center.

Sistem pendinginan konvensional seperti cooling tower dan evaporative cooling menggunakan air untuk membantu melepaskan panas melalui proses penguapan.

Namun, perkembangan teknologi memungkinkan pengelola data center menerapkan sistem pendinginan yang lebih efisien, seperti air-cooled chiller, economizer, closed-loop cooling, hingga dry cooling.

Penerapan teknologi tersebut dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan air, meskipun setiap sistem memiliki kebutuhan energi dan karakteristik operasional berbeda.