NADIKABAR.COM — Indonesia menegaskan komitmennya untuk penyediaan akses pembiayaan perdagangan (trade finance) yang inklusif, andal, dan efisien bagi sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di kawasan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
Dalam keterangan di Jakarta, Rabu, Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri mengatakan UMKM merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia yang menyumbang sekitar 61 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau senilai lebih dari 500 miliar dolar AS pada 2025.
Namun, tantangan seperti keterbatasan pemahaman terkait persyaratan pembiayaan, agunan, dan riwayat kredit masih menghambat UMKM untuk mendapatkan pembiayaan ekspor guna menembus pasar internasional.
"Di tengah ketidakpastian ekonomi global, akses pembiayaan perdagangan yang terjangkau menjadi kunci utama dalam mendorong daya saing ekspor," ujar Roro.
Dalam sesi exchange view dalam Pertemuan The 42nd COMCEC Ministerial Session di Istanbul, Turkiye, Senin (2/11), Roro menyambut baik rekomendasi kebijakan yang telah diformulasikan oleh COMCEC Trade Working Group, terutama yang berfokus pada perluasan solusi pembiayaan syariah, penilaian kredit berbasis arus kas, digitalisasi dokumen perdagangan, dan skema penjaminan bagi UMKM.
Dalam rangka memperkuat ekosistem pembiayaan perdagangan regional, Indonesia juga mendukung gagasan kerja sama konkret antarnegara anggota OKI.
Adapun beberapa program terkait hal tersebut meliputi peningkatan kapasitas, fasilitas pembiayaan bersama, jaminan kredit, serta asuransi ekspor terutama bagi UMKM.
Selain pembiayaan perdagangan, Wamendag Roro menekankan pentingnya penguatan digitalisasi pembayaran lintas batas termasuk pemanfaatan transaksi dengan menggunakan mata uang lokal masing-masing (Local Currency Transactions/LCT). Hal tersebut diperlukan guna mendongkrak kinerja ekspor khususnya bagi UMKM di negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam.
Seiring dengan meningkatnya perdagangan melalui sistem elektronik (e-commerce) antarnegara, Indonesia juga memandang pentingnya sistem pembayaran digital yang aman, nyaman, dan saling terhubung menggunakan sistem pembayaran berbasis QR-Code.
Inisiatif itu dinilai efektif untuk memudahkan transaksi, memperkuat konektivitas ekonomi, serta membantu UMKM berpartisipasi aktif dalam perdagangan melalui sistem elektronik lintas negara.
Menurut Roro, pengalaman Indonesia dalam mengembangkan interkoneksi pembayaran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) lintas negara seperti yang telah berjalan dengan Malaysia, Singapura, Jepang dan beberapa negara lainnya, menunjukkan potensi besar sistem pembayaran digital berbasis standar QR dalam mempermudah transaksi UMKM dan memperluas jangkauan pasar di kawasan OKI.