Sementara kemampuan metakognitif agar siswa tidak langsung menerima jawaban AI sebagai kebenaran. Mereka menyadari bahwa AI adalah alat yang dapat membantu proses berpikir, tetapi hasilnya tetap perlu diperiksa, dipertanyakan, dan dievaluasi.
Schleicher juga menekankan, AI seharusnya digunakan sebagai alat untuk membantu berpikir, bukan menggantikan proses berpikir.
Apakah menduduki posisi teratas dalam penggunaan kecerdasan buatan bisa dipandang hal yang positif buat Indonesia?
Dalam kanal Instagram @the_oecd, Schleicher menyoroti penurunan tajam kemampuan membaca siswa di tengah era perkembangan kecerdasan buatan (AI). Hasil PISA 2025 menunjukkan rata-rata skor membaca turun 28 poin di seluruh negara OECD tim redaksi tahun 2015 dan 2025.
"Membaca selalu menjadi induk dari semua keterampilan, jadi ini sangat penting. Dan yang sangat mengkhawatirkan adalah kita melihat penurunan dalam jenis keterampilan membaca, yang paling penting di era AI; kemampuan kita untuk menggabungkan berbagai informasi atau membedakan fakta dari opini untuk menghadapi ambiguitas," ucapnya.
"Anak muda sekarang membaca lebih cepat, tetapi kurang akurat, dan sekali lagi, itu bukan tren yang sehat," sambungnya.
Teknologi baru seperti AI menurut Schleicher menjadikan siswa lebih banyak menjadi konsumen pengetahuan yang sudah jadi, sehingga tidak tertuntut untuk berpikir kritis, berefleksi, membandingkan, dan memberikan kritik.
"Sayangnya, perubahan perilaku semacam itu tercermin dalam hasil pembelajaran," ucapnya.
Seperti halnya orang yang tidak bugar hanya karena menonton acara olahraga, ia menekankan, siswa juga tidak menjadi cerdas hanya dengan mengonsumsi konten. Untuk itu, butuh usaha lebih besar dalam memproses materi pelajaran agar sekaligus melatih kemampuan bernalar kritis dan berefleksi.