"Sayangnya, banyak aplikasi AI dirancang justru untuk mempermudah hidup kita. Aplikasi-aplikasi tersebut memberikan jawaban siap pakai, alih-alih mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan yang tepat, dan kemungkinan besar itulah yang tercermin dalam hasil-hasil (PISA) tersebut," ucapnya.

Di sisi lain, Schleicher mengatakan, penggunaan AI justru tampak berkorelasi positif dengan hasil pembelajaran jika siswa secara sengaja diajarkan cara menafsirkan informasi dari AI.

Berdasarkan hasil PISA, mahasiswa yang mengatakan mereka tidak menggunakan AI untuk menyusun teks tugas menulis memiliki prestasi lebih baik daripada mereka yang mengatakan mereka menggunakannya. Namun, di tim redaksi pengguna yang sering, mahasiswa yang menggunakan AI untuk membantu mereka belajar dan diajari cara menilai kualitas informasi yang dihasilkan AI cenderung berprestasi lebih baik daripada mereka yang tidak menerima bimbingan seperti itu.

"Jadi, membekali anak muda dengan tingkat literasi AI yang tepat bisa menjadi penawar terhadap dampak-dampak negatif tersebut," ucapnya.

Selaras, Sekretaris Jenderal OECD Mathias Cormann mengatakan AI dapat bermanfaat jika digunakan secara terarah.

Hasil PISA 2025 menunjukkan, siswa yang mengaku tidak menggunakan AI untuk menyusun teks tugas menulis memiliki prestasi lebih baik daripada mereka yang mengaku menggunakannya. Di sisi lain,siswa yang sering menggunakan AI untuk membantu mereka belajar tetapi diajari cara menilai kualitas informasi yang dihasilkan AI cenderung berprestasi lebih baik daripada mereka yang tidak menerima bimbingan serupa.

"Teknologi dan AI dapat memperkuat pembelajaran dan membantu mempersiapkan kaum muda untuk masa depan, tetapi hanya jika digunakan dengan tujuan yang jelas dan bukan sebagai pengganti perhatian, usaha, dan pemahaman," ucapnya.

*Peserta program Maganghub Kemnaker di NadiKabar.com berkontribusi dalam penulisan artikel ini.