Indonesia disebut juga memanfaatkan bahan bakar rendah karbon untuk kapal dan sistem tenaga surya untuk infrastruktur pelabuhan guna lebih mendukung upaya dekarbonisasi di sektor maritim.
Di sektor penerbangan, Indonesia terus mendorong penggunaan Sustainable Aviation Fuels (SAF) sebagai energi alternatif dan menerapkan teknologi efisien energi di bandara-bandara, serta terus berpartisipasi aktif dalam "Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation".
Sebagai anggota APEC, Indonesia telah berperan aktif dalam mendukung kerja sama transportasi dalam kerangka kerja sama para menteri transportasi APEC dengan terus berupaya mendukung penerapan teknologi digital dalam sektor transportasi untuk mengolah data lalu lintas secara "real-time", meningkatkan manajemen lalu lintas, integrasi layanan transportasi, dan transportasi multimoda.
Di sektor transportasi laut, Indonesia mengaplikasikan AI dalam memprediksi permintaan, mengoptimalkan rute, meningkatkan navigasi, serta mengelola kapal, kargo, dan operasional pelabuhan guna membangun rantai pasok yang tangguh, efisien, dan berketahanan.
Pada sektor penerbangan, Indonesia juga tengah menjajaki penggunaan AI untuk pemantauan emisi pesawat secara "real-time", manajemen slot bandara, dan optimalisasi kapasitas bandara.
Sejumlah pejabat yang ikut mendampingi wakil menteri perhubungan dalam pertemuan di Tiongkok itu adalah Dirjen Perhubungan Udara Lukman F Laisa, Dirjen Kereta Api Allan Tandiono, Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Sokhib Al Rokhman, dan Kepala Pusat Fasilitasi Kerjasama Kemitraan dan Kelembagaan Internasional Amiruddin Arsyad.