NADIKABAR.COM — Chief Executive Officer (CEO) Grab Indonesia Neneng Goenadi mendorong talenta kerja memiliki kemampuan berpikir kritis dalam penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) agar dapat memanfaatkan hasil analisis untuk mengambil keputusan.

Neneng mengatakan perkembangan teknologi termasuk artificial intelligence (kecerdasan buatan/AI) saat ini membuat sejumlah pekerjaan rutin mulai dapat dilakukan oleh bantuan teknologi dan dibutuhkan kemampuan manusia untuk memahami hasil kerja AI.

"AI itu sudah menggantikan pekerjaan rutin dan especially come up with analysis. Pertanyaannya adalah bagaimana penggunanya ini bisa menilai ini analisis saya benar atau tidak," ujar Neneng dalam panel diskusi FEKDI & IFSE 2026 di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, kemampuan berpikir kritis (critical thinking) menjadi penting karena penggunaan AI tidak cukup hanya dengan menerima hasil yang diberikan teknologi. Talenta perlu mampu mempertanyakan, mengevaluasi, dan menentukan apakah hasil analisis tersebut sesuai dengan konteks pekerjaan.

Kebutuhan tersebut juga perlu menjadi perhatian perguruan tinggi dalam menyiapkan lulusan yang memasuki dunia kerja.

Menurut Neneng, mahasiswa yang saat ini masuk ke dunia kerja relatif lebih cepat beradaptasi dengan AI karena telah mengenal teknologi tersebut sejak masa pendidikan.

Namun, tantangan juga muncul dari tenaga kerja yang sudah lebih lama berada di industri, terutama kelompok manajemen menengah yang memasuki dunia kerja ketika AI belum menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Karena itu, perusahaan dinilai perlu memberikan edukasi dan pelatihan agar pekerja yang sudah berada di dalam industri dapat mengubah cara kerja dengan memanfaatkan AI.

"Kalau cuma bilang pakai AI, orang akan bilang pakai AI buat apa, buat cuma benerin kata-kata atau apa. Jadi harus dilatih, sehingga mereka juga lebih berubah cara bekerjanya dan menjadi lebih efisien," katanya.

Dia juga menekankan bahwa industri tidak harus menyiapkan seluruh talenta dengan kemampuan pemrograman. Menurut dia, kebutuhan industri tidak semata-mata pada kemampuan coding, melainkan bagaimana pekerja mampu menggunakan teknologi secara tepat.

Neneng menilai penggunaan AI pada akhirnya dapat membuat pekerjaan menjadi lebih tajam karena proses analisis dapat dibantu teknologi, termasuk dengan perkembangan agentic AI.

Ia mengatakan AI tidak hanya menjadi alat untuk menggantikan pekerjaan rutin, tetapi dapat membantu pekerja meningkatkan produktivitas dan kualitas pengambilan keputusan di dalam industri.