Untuk diketahui, inflasi Consumer Price Index (CPI) AS secara tahunan meningkat menjadi berada pada level 3,7 persen (year on year/yoy) pada September 2026, lebih tinggi dari konsensus pasar sebesar 3,6 persen (yoy).

Sementara inflasi inti tahunan juga meningkat menjadi 2,6 persen (yoy), lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 2,5 persen (yoy).

Selain itu, Erwin menambahkan bahwa ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak tetap tinggi di atas 105 dolar AS per barel dan meningkatkan risiko fiskal ke depan.

Indeks dolar AS (DXY) sempat meningkat tajam ke level tertinggi sejak Mei 2025, dan imbal hasil (yield) US Treasury tenor 2 tahun sempat naik 12 basis poin (bps) ke level 4,90 persen.