Namun, influenza tidak selalu ringan. Pada kelompok tertentu, terutama lansia, anak kecil, ibu hamil, serta orang dengan penyakit penyerta, infeksi dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius, termasuk pneumonia dan gangguan pernapasan.

Infeksi influenza juga dapat diikuti infeksi bakteri. Komplikasi yang muncul pada seseorang dengan influenza berat tidak selalu disebabkan oleh virus influenza semata.

Salah satu alasan influenza terus bertahan adalah kemampuannya berubah. Perubahan pertama dikenal sebagai antigenic drift, yakni perubahan kecil yang terjadi secara bertahap pada virus. Perubahan ini dapat membuat sistem kekebalan tubuh tidak lagi mengenali virus dengan sempurna. Itulah salah satu alasan vaksin influenza perlu diperbarui secara berkala.

Ada pula perubahan yang jauh lebih besar, yang dikenal sebagai antigenic shift. Peristiwa ini dapat terjadi ketika dua virus influenza berbeda menginfeksi satu inang pada waktu yang sama dan kemudian bertukar bagian materi genetik.

Hasilnya dapat berupa virus dengan kombinasi sifat yang berbeda dari virus sebelumnya.

Babi sering menjadi perhatian dalam pembahasan ini karena memiliki reseptor yang memungkinkan terjadinya infeksi dari beberapa jenis virus influenza. Pertukaran materi genetik kemudian berpotensi menghasilkan virus baru yang belum banyak dikenali oleh sistem kekebalan manusia.

Perubahan besar seperti inilah yang dalam sejarah berkaitan dengan munculnya sejumlah pandemi influenza, termasuk pandemi 1957, 1968, dan 2009.

Influenza A juga berbeda dari Influenza B yang terutama beredar pada manusia. Influenza A dapat ditemukan pada berbagai jenis hewan, termasuk unggas dan babi. Keragaman inang tersebut membuat virus memiliki ruang yang luas untuk terus berevolusi.