Dalam kasus spesifik ini, seorang analis meminta informasi kepada chatbot mengenai laporan intelijen terkait manifes kapal yang berasal dari Komando Operasi Khusus AS kawasan Pasifik, yang bermarkas di Hawaii. Tidak jelas apakah chatbot itu merupakan produk komersial yang tersedia secara umum atau produk pemerintah AS.

Bot tersebut menggabungkan intelijen open-source dengan intelijen sinyal rahasia milik pemerintah, lalu menarik kesimpulan krusial mengenai muatan yang dibawa kapal yang dimaksud. Analis kemudian menggunakan AI untuk menyusun temuan itu menjadi laporan intelijen standar -- jenis laporan yang dipercaya oleh para pejabat militer -- dan menyebarluaskan laporan tersebut.

Alasan di balik pesatnya penerapan AI adalah kemampuannya membantu militer mengambil keputusan di medan tempur, seperti menentukan target mana yang akan diserang atau ke mana aset militer harus dipindahkan, dengan lebih cepat.

Para pejabat menyatakan bahwa AS tidak boleh tertinggal dalam integrasi AI, mengingat kemungkinan harus menghadapi China atau musuh lainnya yang berpotensi mengungguli AS selangkah lebih maju.

Komando Operasi Khusus AS kawasan Pasifik dan Pentagon belum memberikan komentar atas laporan tersebut.