"Batu bongkok itu katanya ada di tengah sungai. Orang-orang percaya kalau buaya-buaya besar itu bersarang di sana," ungkap Barong.
Bagi masyarakat lokal, cerita ini bukan sekadar bumbu pengantar tidur. Kemunculan buaya sering dianggap sebagai pesan alam-entah itu peringatan akan datangnya banjir besar atau teguran bagi manusia yang mulai merusak lingkungan.
Di tengah modernitas, Barong mengingatkan bahwa menghormati alam adalah harga mati. "Ini bukan hanya soal buaya atau batu di sungai. Ini tentang bagaimana kita harus menghormati alam. Karena kalau kita mengganggu keseimbangan, alam pasti akan memberi peringatan," pungkasnya.
Hingga kini, riak air Sungai Cimandiri tetap menyimpan rahasianya sendiri. Sebuah lorong waktu yang menghubungkan ketakutan kolonial di masa lalu dengan kearifan lokal yang tetap terjaga hingga kini.