Meski demikian, penelitian ini tidak mengukur suhu minuman secara langsung. Profesor Muy-Teck Teh dari Queen Mary University of London menilai penggunaan suhu berdasarkan laporan peserta menjadi salah satu keterbatasan penelitian.

Menurutnya, preferensi terhadap minuman yang sangat panas mungkin berkaitan dengan perbedaan sensitivitas terhadap panas pada setiap orang. Kemungkinan tersebut membuat hubungan sebab-akibat tim redaksi suhu minuman dan kanker kerongkongan masih perlu diteliti lebih lanjut.

Dengan demikian, temuan ini menunjukkan adanya hubungan tim redaksi kebiasaan mengonsumsi minuman sangat panas dan risiko SCC, tetapi bukan berarti setiap orang yang minum teh atau kopi panas akan mengalami kanker kerongkongan. Membiarkan minuman hingga suhunya nyaman untuk diminum dapat menjadi langkah sederhana untuk mengurangi paparan panas berlebih pada kerongkongan.