Dengan demikian, secara etimologis Singaparna dapat dimaknai sebagai singa yang mengalami cedera berat. Makna tersebut terdengar cukup unik untuk sebuah nama wilayah.
Keunikan itu ternyata tidak berdiri sendiri. Di sekitar Singaparna terdapat sejumlah nama kampung yang juga menggunakan nama satwa, salah satunya Kampung Badakpaeh di Desa Cipakat, Kecamatan Singaparna.
Kampung Badakpaeh berada hanya beberapa kilometer dari Alun-alun Singaparna ke arah Kota Tasikmalaya. Namanya berasal dari dua kata Sunda, yakni badak dan paeh.
Badak berarti hewan bercula, sedangkan paeh berarti mati. Jika digabungkan, Badakpaeh secara sederhana berarti badak mati.
Cerita tentang nama satwa juga ditemukan di Kampung Gajahbarang, Desa Ciawang, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya. Letaknya pun tidak terlalu jauh dari Kampung Badakpaeh.
Menurut warga setempat yang pernah diwawancarai NadiKabar, Teguh Arifianto, istilah gajah barang berkaitan dengan pemanfaatan gajah sebagai alat transportasi atau pengangkut barang. Gajah tersebut konon digunakan untuk membawa berbagai barang, termasuk hasil pertanian.
"Konon katanya gajah barang itu gajah yang di bagian pundaknya diberi keranjang besar untuk mengangkut barang atau hasil tani," kata Teguh.
Teguh mengakui bahwa keberadaan nama-nama tersebut memang menarik. Namun, ia mengaku belum mengetahui secara pasti sejarah maupun asal-usul munculnya nama-nama unik tersebut.