"Basket, renang, sepak bola, bulu tangkis, senam, hingga latihan penguatan otot dapat menjadi pilihan selama dilakukan sesuai kemampuan, dengan teknik yang tepat dan supervisi," ujar dr Surya.
Namun, orang tua tidak perlu memilih olahraga tertentu dengan anggapan dapat menambah tinggi badan. Menurut dr Surya, yang lebih penting adalah anak aktif secara konsisten, nutrisi cukup, tidur yang baik, serta kondisi kesehatan yang mendukung tumbuh kembang anak.
Selain itu, potensi anak juga perlu diperhatikan dalam menentukan jenis olahraga dan program latihannya. dr Eddy Fadlayana, SpA(K), MKes dari Mayapada Hospital Bandung (MHBD) menjelaskan potensi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan anak dalam olahraga tertentu, tetapi juga dapat dilihat dari perkembangan kemampuan motorik dan fisiknya, seperti koordinasi gerak, keseimbangan, kelincahan, kekuatan, maupun daya tahan.
Meski demikian, aktivitas fisik hanyalah salah satu faktor yang mendukung pertumbuhan. dr Eddy menyebut faktor lainnya turut dipengaruhi oleh genetik, kecukupan gizi, kualitas tidur, dan kondisi kesehatan secara menyeluruh.
"Orang tua perlu menerapkan pola hidup sehat dan melakukan pemantauan tumbuh kembang secara berkala agar setiap hambatan dapat dikenali dan ditangani sedini mungkin," jelas dr Eddy.
Karena itu, orang tua tidak perlu memaksakan jenis atau program olahraga tertentu dengan harapan dapat menambah tinggi badan anak. dr Eddy menambahkan, yang terpenting adalah memastikan aktivitas fisik sesuai dengan kondisi, potensi, dan tahap tumbuh kembangnya.
"Jika tinggi badan tidak bertambah sesuai usia atau kurva pertumbuhannya melambat, segera konsultasikan ke dokter agar kondisi dan tumbuh kembangnya dapat dievaluasi," ujar dr Eddy.