Sehingga ia termasuk ke dalam siswa peringkat ketiga terbaik. Hal itu membuatnya eligible daftar Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).

Ia daftar SNBP dengan pilihan FMIPA-M ITB serta FTI-RI ITB. Namun, ternyata ia belum lolos pada jalur SNBP.

Atas saran sang ayah, Kevin memilih kemudian FTTM pada Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Akhirnya ia pun lolos pada pilihan pertamanya tersebut.

"Saya mempersiapkan UTBK sekitar dua bulan dan sebetulnya hasilnya kurang maksimal. Saya pun mengira saya tidak akan lolos. Namun, Tuhan memiliki rencana yang lain," tuturnya.

Dengan rendah hati, Kevin menyanggah bahwa dirinya selalu berhasil. Meskipun ia anak yang pintar, tetapi ia juga manusia biasa yang beberapa kali gagal.

"Mungkin banyak orang yang mengira bahwa saya adalah anak yang sudah pintar sejak lahir dan bisa melalui tantangan akademik apa pun dengan mudah. Faktanya, saya lebih banyak gagal daripada berhasil," katanya.

Saat memasuki tahun pertama perkuliahan, Kevin merasa ada tantangan tersendiri. Pasalnya, kawan-kawan Kevin memiliki usia yang lebih senior.

Ia terkadang mengalami impostor syndrome, ia merasa kelelahan dalam mengejar ritme belajar. Namun, dukungan keluarga dan teman membuat Kevin harus tetap melanjutkan perjuangannya dalam belajar.