NADIKABAR.COM — Perut buncit tidak selalu berarti seseorang mengalami kelebihan berat badan. Kondisi ini dapat terjadi karena penumpukan lemak di area perut, kembung akibat gangguan pencernaan, atau faktor lain yang memengaruhi bentuk tubuh.
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) Amerika Serikat menjelaskan bahwa indeks massa tubuh (IMT) tidak mengukur lemak tubuh secara langsung. Pada sebagian orang, terutama mereka yang memiliki keturunan Asia, lemak dapat lebih banyak tersimpan di sekitar perut meskipun IMT tidak tergolong tinggi.
Berikut beberapa penyebab perut terlihat buncit meskipun berat badan masih dalam rentang normal.
Salah satu penyebab yang perlu diperhatikan adalah penumpukan lemak visceral, yaitu lemak yang berada di dalam rongga perut dan mengelilingi organ-organ internal, seperti hati dan usus.
Berbeda dengan lemak subkutan yang berada tepat di bawah kulit, lemak visceral terletak lebih dalam sehingga tidak dapat dinilai hanya dengan mencubit bagian perut.
Cleveland Clinic menjelaskan bahwa jumlah lemak visceral dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk genetika, pola makan, aktivitas fisik, dan kondisi metabolisme. Jika jumlahnya berlebihan, lemak ini berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan gangguan metabolik.
Artinya, seseorang yang memiliki berat badan normal tetap perlu memperhatikan lingkar perut dan pola hidupnya. Namun, perut yang terlihat besar tidak serta-merta menunjukkan bahwa seseorang memiliki lemak visceral berlebihan.
2. Terlalu banyak duduk dan kurang bergerak
Kebiasaan duduk terlalu lama dan kurang melakukan aktivitas fisik dapat berkontribusi terhadap penumpukan lemak, termasuk di area perut.
Ketika asupan energi secara konsisten melebihi energi yang digunakan tubuh, kelebihan energi dapat disimpan sebagai lemak. Distribusi lemak setiap orang berbeda dan turut dipengaruhi faktor genetik serta hormonal.
Seseorang mungkin terlihat memiliki tubuh yang relatif ramping karena berat badannya tidak tinggi, tetapi memiliki massa otot yang rendah dan proporsi lemak tubuh yang lebih besar.
Karena itu, angka timbangan saja tidak cukup untuk menggambarkan komposisi tubuh secara menyeluruh. Aktivitas fisik teratur, latihan kekuatan, dan pola makan seimbang dapat membantu menjaga massa otot serta kesehatan metabolisme.
Konsumsi makanan dan minuman tinggi kalori secara berlebihan dapat berkontribusi terhadap penumpukan lemak, meskipun perubahan berat badan tidak selalu langsung terlihat.
Minuman manis, makanan tinggi gula tambahan, serta makanan yang padat energi tetapi rendah serat dapat membuat asupan kalori harian lebih mudah berlebihan.
Di sisi lain, konsumsi makanan tertentu juga dapat membuat perut tampak lebih besar untuk sementara akibat pembentukan gas dalam saluran pencernaan. Kondisi ini berbeda dari penumpukan lemak.
Untuk menjaga kesehatan, utamakan pola makan seimbang yang mencakup sayuran, buah-buahan, sumber protein, biji-bijian utuh, dan air putih yang cukup. Tidak perlu menghindari seluruh jenis karbohidrat atau menjalani diet ekstrem hanya karena ingin mengecilkan perut.
4. Perut kembung akibat gas dalam pencernaan
Perut yang terlihat buncit tidak selalu disebabkan oleh lemak. Salah satu kemungkinan lainnya adalah kembung atau bloating, yaitu kondisi ketika perut terasa penuh, membesar, atau tidak nyaman.
Menurut National Health Service (NHS) Inggris, penyebab kembung yang umum adalah penumpukan gas di saluran pencernaan. Kondisi ini dapat berkaitan dengan konsumsi makanan atau minuman tertentu, menelan udara saat makan, sembelit, intoleransi makanan, dan sindrom iritasi usus atau irritable bowel syndrome (IBS).
Berbeda dengan penumpukan lemak, kembung dapat berubah sepanjang hari. Sebagai contoh, perut mungkin terlihat lebih rata pada pagi hari, kemudian terasa penuh setelah makan.
Untuk membantu mengurangi kembung, cobalah makan secara perlahan, menghindari minuman berkarbonasi jika memicu keluhan, serta memperhatikan makanan yang membuat perut terasa tidak nyaman.
Apabila kembung berlangsung terus-menerus atau disertai penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, nyeri perut, maupun perubahan pola buang air besar, sebaiknya periksakan diri ke dokter.
Sembelit juga dapat membuat perut terasa penuh dan tampak lebih besar. Kondisi ini terjadi ketika seseorang mengalami kesulitan buang air besar, frekuensi buang air besar berkurang, atau tinja menjadi keras.
Penumpukan tinja di usus dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, kembung, dan sensasi perut penuh. Karena itu, perut buncit yang disertai sulit buang air besar tidak selalu berhubungan dengan peningkatan lemak tubuh.
Memenuhi kebutuhan serat secara bertahap, minum cukup air, dan melakukan aktivitas fisik dapat membantu menjaga keteraturan buang air besar. Jika sembelit menetap atau disertai nyeri hebat, muntah, maupun tidak bisa buang angin, segera cari pertolongan medis.
6. Faktor genetik dan perubahan hormon
Bentuk tubuh dan lokasi penyimpanan lemak berbeda-beda pada setiap orang. Faktor genetik dapat memengaruhi kecenderungan seseorang menyimpan lebih banyak lemak di sekitar perut dibandingkan di pinggul atau paha.
Perubahan hormon juga dapat memengaruhi distribusi lemak. Pada perempuan, misalnya, perubahan hormonal selama masa perimenopause dan menopause dapat berkaitan dengan perubahan komposisi tubuh serta kecenderungan penumpukan lemak di area perut.
Namun, bentuk perut tidak dapat digunakan sendirian untuk menyimpulkan adanya gangguan hormon. Jika perubahan ukuran perut terjadi secara signifikan tanpa alasan yang jelas, pemeriksaan medis dapat membantu mengetahui penyebabnya.
Cara menjaga lingkar perut tetap sehat
Perut yang terlihat buncit tidak selalu membutuhkan penurunan berat badan. Jika penyebabnya adalah kembung, penanganannya berbeda dari penumpukan lemak. Karena itu, penting untuk mengenali faktor yang memengaruhi bentuk perut sebelum mengubah pola makan atau memulai program olahraga.
Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan dan mengurangi penumpukan lemak di area perut.
Biasakan berjalan kaki, bersepeda, berenang, atau melakukan aktivitas aerobik lainnya. Latihan kekuatan juga membantu mempertahankan dan meningkatkan massa otot. Aktivitas fisik secara teratur dapat membantu mengurangi lemak perut meskipun perubahan angka timbangan tidak terlalu besar.
2. Perhatikan asupan makanan dan minuman
Batasi minuman manis dan makanan tinggi kalori yang dikonsumsi secara berlebihan. Perbanyak sayuran, buah-buahan, sumber protein, serta makanan kaya serat untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi dan menjaga fungsi pencernaan.
Usahakan memiliki jadwal tidur teratur dan durasi tidur yang memadai. Kebiasaan tidur yang buruk dapat berkaitan dengan perubahan metabolisme dan pengaturan nafsu makan, sehingga berpotensi memengaruhi komposisi tubuh.
4. Kenali makanan yang memicu kembung
Jika perut sering membesar setelah makan, perhatikan apakah keluhan berkaitan dengan makanan tertentu, minuman berkarbonasi, atau kebiasaan makan terlalu cepat. Catatan sederhana mengenai makanan dan gejala dapat membantu mengenali pemicunya.
5. Pantau lingkar perut, bukan hanya berat badan
Gunakan pita ukur untuk memantau perubahan ukuran pinggang secara berkala. Pengukuran sebaiknya dilakukan pada posisi yang sama dan tidak segera setelah makan atau ketika perut sedang kembung.
Harvard Health menjelaskan bahwa ukuran lingkar pinggang dapat memberikan informasi tambahan mengenai distribusi lemak yang tidak terlihat dari angka indeks massa tubuh saja. Kombinasi pola makan seimbang dan aktivitas fisik juga dapat membantu mengurangi lemak visceral.
Berapa lingkar perut yang perlu diwaspadai?
Selain berat badan, lingkar perut dapat menjadi salah satu indikator untuk menilai risiko kesehatan akibat penumpukan lemak di area perut.
Sebagai acuan yang umum digunakan pada populasi Asia, lingkar perut 90 cm atau lebih pada laki-laki dan 80 cm atau lebih pada perempuan menunjukkan peningkatan risiko kesehatan yang berkaitan dengan obesitas sentral. Angka ini merupakan indikator penyaringan, bukan diagnosis tunggal yang dapat menentukan kondisi kesehatan seseorang.
Pedoman klinis American Diabetes Association pada 2026 juga menekankan pentingnya mempertimbangkan lingkar perut atau rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan dalam menilai kelebihan lemak tubuh. Indeks massa tubuh saja tidak selalu menggambarkan distribusi lemak secara akurat.
Untuk memantau rasio lingkar pinggang terhadap tinggi badan, seseorang dapat membagi ukuran lingkar pinggang dengan tinggi badan menggunakan satuan yang sama. Sebagai contoh, seseorang dengan tinggi badan 170 cm dan lingkar pinggang 85 cm memiliki rasio 0,5. Rasio 0,5 atau lebih dapat menjadi tanda untuk mengevaluasi risiko kesehatan lebih lanjut.
Meski demikian, hasil pengukuran perlu dipertimbangkan bersama faktor lain, seperti usia, riwayat kesehatan, tekanan darah, dan kadar gula darah.
Kapan perut buncit perlu diperiksakan?
Perut yang membesar secara perlahan dapat berkaitan dengan perubahan komposisi tubuh atau kebiasaan sehari-hari. Namun, pembesaran perut yang terjadi secara tiba-tiba atau terus-menerus perlu mendapatkan perhatian.
Segera konsultasikan kondisi tersebut kepada dokter apabila perut sering kembung dan tidak kunjung membaik, terutama jika disertai nyeri perut, perubahan pola buang air besar, atau penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
Jika pembesaran perut disertai nyeri hebat yang mendadak, muntah darah, atau kesulitan buang air besar dan buang angin, segera cari pertolongan medis.
Dengan demikian, perut buncit meskipun berat badan normal dapat disebabkan oleh penumpukan lemak di area perut, kembung, sembelit, maupun faktor lain. Mengetahui penyebabnya merupakan langkah awal untuk menentukan penanganan yang tepat.
Menjaga pola makan, rutin bergerak, tidur cukup, dan memantau lingkar perut dapat membantu menjaga kesehatan. Namun, perubahan bentuk perut tidak selalu menandakan penumpukan lemak, sehingga keluhan yang menetap sebaiknya tidak diatasi hanya dengan diet atau olahraga tanpa mengetahui penyebabnya.