Meskipun sempat menyusut, armada jet tempur Vietnam Utara terus dipasok ulang oleh Uni Soviet dan Tiongkok hingga mencapai puncaknya sebanyak 206 pesawat pada tahun 1972.
Tujuan utama jet tempur MiG bukanlah memenangkan serangan secara terbuka, melainkan mengganggu penerbangan pengebom AS dan memaksa pesawat tempur-pengebom AS (seperti F-4 dan F-105) membuang bom (jettison) sebelum mencapai sasaran.
Pesawat MiG yang berukuran kecil dan lincah memanfaatkan keunggulan jarak pandang untuk melakukan serangan cepat satu kali (one-pass attack) dari posisi ideal (saat pesawat AS sarat beban bom, kehabisan bahan bakar, atau rusak), lalu melarikan diri ke area perlindungan aman (sanctuary) seperti wilayah Tiongkok atau zona terlarang di sekitar Hanoi dan Haiphong.
Berdasarkan dokumen memo militer AS tahun 1966 (Foreign Relations of the United States), peningkatan kemampuan dan ancaman dari pesawat tempur MiG milik Vietnam Utara menjadi salah satu faktor yang mendorong militer Amerika Serikat untuk mengubah strategi operasi udara.