NADIKABAR.COM — Bayi berusia 20 bulan ditenggelamkan orang tuanya dalam ember di toilet umum di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan (Jaksel) hingga tewas. Ini penampakan toilet yang menjadi TKP saksi bisu bayi malang tersebut dibunuh orang tuanya sendiri.
NadiKabar mendatangi TKP WC umum yang berada di Jalan Kramat tepat di seberang Stasiun Kebayoran, Jakarta Selatan, Rabu (4/11/2026). Toilet tersebut berada di lantai satu bangunan yang bertingkat tiga.
Di sana, terdapat enam bilik toilet. Dari enam bilik toilet, hanya lima yang dapat digunakan. Sementara satu toilet rusak dan dijadikan tempat penyimpanan barang.
Ukuran toilet berkisar 1x 1,5 meter.Terdapat ember, gayung hingga kursi kecil di dalam toilet.
Peristiwa pembunuhan bayi 20 bulan itu terjadi pada Sabtu (31/10) malam. Pelaku pembunuhan yakni ibukandung korban berinisial JM (19), dan ayah tirinya, AR (22).
Korban tewas usai ditenggelamkan beberapa kali ke dalam ember oleh AR. Setelah itu, keduanya menggunakan taksi online membawa jasad korban ke Palmerah.
Dari Palmerah, keduanya berjalan kaki ke arah Bendungan Hilir. Di sana mereka menemukan tanah kosong dan menguburkan jasad korban yang dibungkus kantong kresek.
Kapolsek Kebayoran Lama Kompol Seala Syah Alam mengatakan kasus initerungkap dari kecurigaan saksi.Sebelumnya, saksi yang merupakan pemilik toilet umum di sekitar Stasiun Kebayoran Lama sempat mendengar jeritan korban.
"Pelaku berinisial AR itu melakukan tindak pidana di sana sebanyak dua kali.Dua kali di WC umumitu di jam 7 malam hari Sabtu tanggal 31 Oktober dan juga jam 11.00 malam di mana ada saksi pemilik toilet umum. Dengan keadaan tersebut, salah satu saksi pemilik toilet itu curiga karena ada jeritan tangisan dari korban ini," kata Seala kepada wartawan, Selasa (3/11/2026).
Setelah menguburkan jasad bayi tersebut, keduanya kembali ke toilet tersebut untuk mengambil barang yang ketinggalan. Di sisi lain, saksi yang sudah curiga dengan kedua pelaku ini dan akhirnya diamankan.
Polisi mengungkap alasan kedua pelaku tega membunuh korban lantaran tak sanggup membiayai anak. Mereka mempunyai dua orang anak, dalam hal ini korban merupakan anak kedua.
Sang ibu berinisial JM bekerja sebagai pengamen, sementara ayah tiri korban berinisial AR menganggur.