Berdasarkan spesifikasi teknis, jembatan tersebut dirancang dengan daya tampung beban maksimal 2 ton, dengan aturan penggunaan aman di kisaran 60 persen dari total kapasitas.
Penyelenggara sebelumnya telah memasang rambu peringatan di kedua ujung jembatan dengan batasan maksimal tiga pejalan kaki atau satu unit sepeda motor secara bergantian. Namun, saat acara berlangsung, diperkirakan terdapat lebih dari 40 orang yang berada di atas jembatan secara serentak.
"Sebelumnya sudah diuji coba sekitar satu minggu sebelum peresmian pada bulan Agustus dengan dua motor dan enam orang, kondisinya aman. Namun saat kejadian kemarin diperkirakan ada 40 orang lebih di atas jembatan," tambahnya.
Pembangunan jembatan ini merupakan bagian dari program nasional Presiden RI guna membuka akses fasilitas pendidikan, pertanian, kesehatan, dan pariwisata di wilayah terisolasi. Proyek tersebut dikerjakan secara padat karya dan gotong royong bersama masyarakat tanpa menggunakan sistem kontraktual.
Kodim 0625/Pangandaran menargetkan pembangunan lima jembatan serupa dapat rampung pada akhir bulan ini. "Pascakejadian, tim teknis langsung diturunkan untuk mengevaluasi struktur jembatan secara menyeluruh serta melakukan perbaikan sesegera mungkin agar insiden serupa tidak terulang kembali," tutupnya.
TNI AD melalui Dinas Penerangan TNI AD (Dispenad) memberikan penjelasan resmi terkait insiden itu. Penyebab utamanya dipastikan adalah beban muatan yang melampaui batas maksimal.
"Kondisi tersebut terjadi setelah lebih dari 50 orang melintas secara bersamaan, melampaui kapasitas yang telah ditentukan, sehingga tali sling pada sisi kiri jembatan terlepas dari pengikat utama dan menyebabkan jembatan menjadi miring," demikian keterangan Dispenad, Senin (31/8/2026).
Pihak Dispenad menegaskan bahwa jembatan tersebut tidak ambruk secara keseluruhan. Secara konstruksi, struktur utama jembatan diklaim masih dalam kondisi kokoh.