Pada Juni hingga Agustus 2026, Bianca terpilih sebagai Amgen Scholar di The University of Tokyo, Jepang. Kesempatan itu membawanya mengerjakan penelitian mengenai lokalisasi protein menggunakan rekayasa genetika.
Bidang tersebut tidak sepenuhnya berada dalam lintasan utama pendidikannya sebagai mahasiswa teknologi pangan di mana ia harus belajar banyak hal dari awal.
Di situlah pencapaian yang dari luar tampak begitu mengesankan ternyata memiliki cerita yang jauh lebih manusiawi di baliknya. Bianca mengalami imposter syndrome, perasaan seolah kemampuan yang dimiliki belum cukup untuk membuatnya pantas berada di lingkungan tersebut.