"Kalau itu kan bisa ditata sedemikian rupa sehingga kelihatannya tetap selaras dengan tebing yang hijau. Kalau merusak alam, apa bedanya dengan hotel-hotel, resort yang banyak dibangun. Kenapa itu diizinkan?," ujarnya.
Di sisi lain, beberapa pengunjung mempertanyakan keberadaan bangunan yang dinilai merusak pemandangan. Salah seorang wisatawan mancanegara yang tak ingin disebutkan namanya mengatakan justru jalur terjal itulah yang menjadi alasan dirinya membayar tiket masuk ke Pantai Kelingking.
"Kenapa dibiarkan itu, kita ke sini untuk menuruni tebing itu dan menikmati alam," ujarnya.
Di tengah perbedaan pandangan wisatawan tersebut, polemik pembangunan lift kaca Pantai Kelingking masih berlanjut di ranah hukum.
Investor proyek tersebut sebelumnya memenangkan gugatan di PTUN Denpasar melawan Pemprov Bali. Namun, kemenangan tersebut belum membuka jalan bagi proyek untuk langsung dilanjutkan.
Pemprov Bali memastikan akan mengambil langkah hukum lanjutan dengan mengajukan banding. Dengan demikian, perdebatan mengenai keselamatan pengunjung, estetika alam, serta legalitas pembangunan lift kaca Pantai Kelingking masih terus bergulir.