Situs yang berafiliasi dengan harian Etelaat, surat kabar tertua yang masih terbit di Iran sejak 1926 itu, kemudian mengangkat pertanyaan lain: setelah kekalahan politik Trump, apakah Washington akan tetap menempuh jalur militer atau berupaya keluar dari kebuntuan melalui tekanan ekonomi dan diplomasi.

Kantor berita Mehr News Agency (MNA), yang berada di bawah Organisasi Propaganda Islam Iran, menarik garis sejarah antara situasi Trump dan nasib Jimmy Carter pada awal 1980-an.

MNA mengingatkan kembali krisis penyanderaan di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Teheran pada 1979. Saat itu mahasiswa revolusioner Iran menyandera puluhan warga Amerika. Pemerintahan Carter kemudian mencoba membebaskan mereka melalui operasi militer pada April 1980.

Operasi itu gagal. Beberapa bulan kemudian, Carter kalah dalam pemilihan presiden dari Ronald Reagan.

Menurut MNA, kegagalan operasi tersebut membuktikan bahwa kekuatan militer Amerika tidak mampu menyelesaikan krisis Iran pada masa itu.

Kantor berita Tasnim yang dekat dengan Korps Garda Revolusi Iran menyajikan tafsir yang lebih lugas. Bagi mereka, tidak ada perbedaan mendasar antara Partai Republik dan Partai Demokrat.

"Tak ada bedanya gajah dan keledai," tulis Tasnim, merujuk pada simbol kedua partai politik Amerika.

Media itu menilai kekalahan Trump juga merupakan kekalahan pribadi yang berakar pada perang melawan Iran.

Untuk menggambarkan hubungan kedua partai, Tasnim mengutip pepatah Persia: "Anjing kuning adalah saudara serigala." Maknanya, Republik dan Demokrat pada akhirnya memiliki sikap yang serupa terhadap Iran maupun negara-negara yang mereka cap sebagai "negara pembangkang".