Hossein Alizadeh, analis politik dan pakar hubungan internasional, menilai dinamika politik di Amerika selalu memiliki dampak yang melampaui batas negaranya.
"Amerika Serikat adalah negara adidaya dan kekuatan hegemonik. Karena itu, apa yang terjadi di sana berpengaruh terhadap seluruh dunia, dari Meksiko dan Kanada hingga Uni Eropa, China, dan tentu saja Timur Tengah," katanya kepada Deutsche Welle.
Alizadeh pernah mengabdi selama 22 tahun dalam dinas diplomatik Iran sebelum mengundurkan diri pada 2010 sebagai bentuk protes terhadap rezim. Sejak itu ia tinggal di Finlandia.
Menurut dia, peluang terjadinya eskalasi militer besar-besaran oleh Amerika Serikat relatif kecil. Meski Demokrat juga memusuhi Republik Islam, pendekatan mereka berbeda dengan pemerintahan Trump.
Jika Trump lebih mengandalkan tekanan dan konfrontasi, Demokrat cenderung membuka ruang kompromi diplomatik dengan Teheran. Pendekatan itu terlihat ketika pemerintahan Barack Obama mencapai kesepakatan nuklir 2015 yang menempatkan program nuklir Iran di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Kesepakatan tersebut kemudian ditinggalkan secara sepihak oleh Trump pada masa jabatan pertamanya.
Alizadeh menilai baik Partai Demokrat maupun sekutu-sekutu Amerika tidak pernah benar-benar mendukung perang melawan Iran. Sebaliknya, mereka berulang kali mengingatkan risiko yang dapat ditimbulkannya.
Risiko itu, menurut dia, kini mulai terlihat. Penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran telah mengganggu salah satu jalur perdagangan minyak terpenting dunia. Dampaknya menjalar ke berbagai negara melalui kenaikan harga energi dan bahan bakar.
Meski begitu, Alizadeh mengingatkan bahwa arah perkembangan krisis dalam beberapa hari mendatang masih sulit diprediksi.
Artikel ini pertama kali terbit dalam Bahasa Jerman