NADIKABAR.COM — Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan bahwa pihaknya akan mengungkapkan target-target dan senjata baru, saat konflik melawan Amerika Serikat (AS) berlarut-larut. IRGC menyinggung keberadaan kabel-kabel internet bawah laut utama yang melintasi Selat Hormuz.

"Tujuh kabel internet utama membentang di bawah Selat Hormuz," ujar juru bicara IRGC, Hossein Mohebbi, dalam pernyataan terbarunya, seperti dilansir Anadolu Agency, Selasa (20/10/2026).

Mohebbi mengklaim bahwa seluruh lalu lintas data internet dan komersial melewati jalur perairan strategis tersebut. Dia tidak secara jelas mengatakan bahwa IRGC akan menargetkan kabel internet bawah laut tersebut.

"Kami hanya ingin mereka mengetahui bahwa target-target baru akan diungkap. Senjata-senjata baru pun akan diperkenalkan," sebutnya.

Pernyataan ini disampaikan Mohebbi dalam sebuah acara di Museum Pertahanan Suci di Teheran, sebagaimana dilaporkan oleh lembaga penyiaran Iran, IRIB.

Dia juga menegaskan tekad Iran untuk menyingkirkan apa yang dia sebut sebagai sisa-sisa kekuatan AS dari kawasan tersebut.

Awal bulan ini, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan kepada media Press TV bahwa Teheran dapat menargetkan kabel-kabel internet bawah laut, pusat data, dan fasilitas kecerdasan buatan (AI) terkait AS, jika perang besar-besaran kembali berlangsung.

"Kami belum memasukkan aset-aset ini ke dalam daftar target kami," kata Rezaei, sembari memperingatkan bahwa infrastruktur semacam itu dapat dihancurkan jika konflik baru pecah.

Perang Timur Tengah bermula pada 28 Februari lalu dengan serangan skala besar oleh AS dan Israel terhadap Iran. Meskipun sempat tercapai gencatan senjata pada April lalu, yang kemudian diikuti oleh nota kesepahaman (MoU) antara Washington dan Teheran yang ditekan pada Juni, permusuhan belum juga berakhir.

Implementasi MoU itu terhenti akibat ketidakpastian terkait keamanan di Selat Hormuz, jalur perairan yang vital bagi pasokan minyak dan gas global. Iran bersikeras mengklaim kendali atas Selat Hormuz dan kerap menargetkan kapal-kapal yang mereka anggap melintas tanpa izin. Sementara AS bersikeras mewujudkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, dan memberlakukan blokade maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.