ISIS yang sempat menguasai sebagian besar wilayah strategis kedua negara itu dan melakukan pembantaian keji, berhasil dikalahkan di Irak pada tahun 2017 dan di Suriah pada tahun 2019. Namun pasukan koalisi AS tetap bertahan untuk memerangi sisa-sisa kelompok militan tersebut.

IRGC, dalam tanggapannya, menyerukan agar AS sepenuhnya meninggalkan kawasan. Disebutkan bahwa kehadiran pasukan Amerika justru menjadi "sumber ketidakamanan" di kawasan.

"AS harus meninggalkan kawasan ini dan menyerahkan pengelolaan keamanan kepada bangsa-bangsa itu sendiri," cetus IRGC dalam pernyataannya.

"Dua dekade pendudukan membuktikan bahwa kehadiran AS tidak membawa keamanan; justru kehadiran itu menjadi sumber ketidakamanan, terorisme, dan ketidakstabilan di Asia Barat," sebut sayap ideologis militer Iran tersebut.