Perekonomian Iran menghadapi tekanan yang terus meningkat akibat sanksi AS, depresiasi mata uang, dan kenaikan harga barang konsumsi.
Pada Agustus, Washington meluncurkan kampanye tekanan ekonomi baru yang disebut "Operasi Pengucilan Ekonomi", yang menyasar ekspor minyak Iran, transaksi keuangan, serta akses negara tersebut ke pasar internasional.
Selain itu, pada Juli, AS kembali menerapkan blokade angkatan laut terhadap kapal-kapal yang berlayar dari dan menuju pelabuhan-pelabuhan Iran, yang semakin membatasi perdagangan minyak Teheran.
Gubernur Bank Sentral Iran, Abdolnaser Hemmati, mengungkapkan pada Agustus bahwa ekspor minyak negara tersebut telah anjlok hingga ke angka nol di tengah konflik dan sanksi yang berlangsung.