Araghchi mengatakan proposal Iran akan memulai hitungan mundur selama tujuh hari menuju pembukaan kembali selat tersebut sekaligus jeda dalam pertempuran di kawasan.

Dalam proposalnya, Iran mensyaratkan gencatan senjata selama tujuh hari di seluruh Timur Tengah, termasuk di Lebanon. Kelompok Hezbollah, sekutu Iran, sedang berperang dengan pasukan Israel di negara tersebut.

Teheran juga menuntut pencairan aset Iran yang dibekukan di luar negeri, pencabutan sanksi terhadap sektor minyak Iran, serta penghentian blokade laut AS.

Selat Hormuz berada di pusat konflik antara AS dan Iran yang dimulai setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Sebelum perang, jalur pelayaran tersebut membawa sekitar seperlima minyak dan gas alam cair dunia.

Setelah perang dimulai, Iran memberlakukan blokade terhadap Selat Hormuz. Washington kemudian merespons dengan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Di tengah upaya diplomatik tersebut, Trump membantah laporan bahwa dirinya bersedia menawarkan keringanan sanksi dan mencairkan dana Iran sebagai bagian dari kesepakatan akhir. "Ini tidak benar. Saya tidak menawarkan apa pun kepada mereka," tulis Trump melalui Truth Social pada Senin (28/9).

Pernyataan itu muncul setelah Axios dan NadiKabar, mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, melaporkan Trump bersedia memberikan keringanan sanksi dan mencairkan dana Iran yang dibekukan dengan syarat Teheran menunjukkan kemajuan konkret dalam isu nuklir.

Trump menyebut pencegahan Iran memperoleh senjata nuklir sebagai salah satu tujuan utama perang. Iran membantah ingin mengembangkan senjata nuklir dan mengatakan memiliki hak atas kapasitas energi nuklir domestik.