Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Teheran siap berunding, tetapi menolak tekanan. "Iran tidak mencari perang, tetapi akan membela diri dari tekanan, ancaman, dan serangan," kata Pezeshkian kepada CBS.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan mediator Qatar belum secara resmi menyampaikan penolakan Washington terhadap proposal Iran. "Kami menunggu mediator menyampaikan pandangan definitif kepada kami, dan kami akan mengambil keputusan berdasarkan pandangan tersebut," kata Araghchi.
Ketidakpastian negosiasi disertai peringatan dari pejabat senior Iran mengenai konsekuensi jika tuntutan keamanan Teheran tidak terpenuhi.
Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan keamanan infrastruktur di kawasan bergantung pada jaminan keamanan bagi Iran.
"Di kawasan di mana kami tidak dapat menjual minyak, tidak seorang pun akan dapat menjual minyak; atau jika keamanan kami tidak dijamin, tidak ada infrastruktur yang akan tetap aman," kata Ghalibaf, menurut televisi pemerintah Iran.
Sementara itu, konflik telah mengganggu pasokan energi dan mendorong harga minyak. Iran menyerang sekutu AS di kawasan Teluk dengan drone dan rudal, sementara kelompok Houthi di Yaman menyerang kepentingan Saudi, menurut Reuters. Pergerakan Houthi di Yaman juga disebut mengancam ekspor minyak Saudi melalui Laut Merah.
Harga minyak Brent naik 1,4 persen menjadi 106,77 dolar AS per barel pada Selasa (29/9), sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 1,5 persen menjadi 93,94 dolar AS per barel.
Pembukaan kembali Selat Hormuz masih bergantung pada hasil pembicaraan melalui mediator. Iran mengatakan menunggu jawaban definitif Washington, sementara Trump membantah adanya tawaran AS untuk memberikan keringanan sanksi atau mencairkan aset Iran.