NADIKABAR.COM — Iran mengatakan sedang menunggu jawaban resmi Amerika Serikat (AS) terkait proposal pembukaan kembali Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pada Senin (28/9) bahwa mediator Qatar telah menyampaikan sejumlah gagasan kepada Teheran dan akan kembali membahasnya dengan pihak AS. Menurut Araghchi, jawaban akhir Washington diharapkan diterima Iran pada Selasa (29/9).

Araghchi, yang berada di New York untuk menghadiri Sidang Umum PBB, mengatakan pembicaraan saat ini berfokus pada pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun, pembukaan jalur pelayaran tersebut disebut Iran bergantung pada sejumlah persyaratan yang telah disampaikan kepada pihak AS.

"Fokus saat ini semata-mata pada Selat Hormuz, dan pembukaan kembali selat tersebut bergantung pada pemenuhan sejumlah syarat yang telah kami sampaikan kepada pihak lain," kata Araghchi, menurut media pemerintah Iran.

Araghchi mengatakan mediator Qatar telah menyampaikan sejumlah gagasan kepada Iran. Setelah pembahasan dengan Teheran, mediator tersebut dijadwalkan kembali mengangkat persoalan itu kepada Washington sebelum menyampaikan jawaban AS kepada Iran.

"Mereka akan kembali mengangkat masalah ini kepada pihak Amerika, setelah itu jawaban akhir AS akan disampaikan kepada kami," kata Araghchi.

Diplomat utama Iran itu mengatakan Qatar berharap proses tersebut dapat diselesaikan pada Selasa. Araghchi berada di New York ketika pembicaraan mengenai upaya mengakhiri konflik kembali berlangsung melalui mediator.

Menurut Reuters, pejabat AS dan Iran pada Senin (28/9) melakukan komunikasi secara terpisah dengan mediator sebagai bagian dari upaya baru untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama tujuh bulan.

Iran sebelumnya mengatakan hanya diplomasi yang dapat menyelesaikan konflik dengan Amerika Serikat dan Israel. Araghchi juga menegaskan bahwa Teheran tidak akan membuka kembali Selat Hormuz tanpa terpenuhinya persyaratan yang telah diajukan.

"Persyaratan kami jelas, dan setiap langkah menuju pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada terpenuhinya persyaratan tersebut," kata Araghchi.

Araghchi mengatakan proposal Iran akan memulai hitungan mundur selama tujuh hari menuju pembukaan kembali selat tersebut sekaligus jeda dalam pertempuran di kawasan.

Dalam proposalnya, Iran mensyaratkan gencatan senjata selama tujuh hari di seluruh Timur Tengah, termasuk di Lebanon. Kelompok Hezbollah, sekutu Iran, sedang berperang dengan pasukan Israel di negara tersebut.

Teheran juga menuntut pencairan aset Iran yang dibekukan di luar negeri, pencabutan sanksi terhadap sektor minyak Iran, serta penghentian blokade laut AS.

Selat Hormuz berada di pusat konflik antara AS dan Iran yang dimulai setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Sebelum perang, jalur pelayaran tersebut membawa sekitar seperlima minyak dan gas alam cair dunia.

Setelah perang dimulai, Iran memberlakukan blokade terhadap Selat Hormuz. Washington kemudian merespons dengan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Di tengah upaya diplomatik tersebut, Trump membantah laporan bahwa dirinya bersedia menawarkan keringanan sanksi dan mencairkan dana Iran sebagai bagian dari kesepakatan akhir. "Ini tidak benar. Saya tidak menawarkan apa pun kepada mereka," tulis Trump melalui Truth Social pada Senin (28/9).

Pernyataan itu muncul setelah Axios dan NadiKabar, mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, melaporkan Trump bersedia memberikan keringanan sanksi dan mencairkan dana Iran yang dibekukan dengan syarat Teheran menunjukkan kemajuan konkret dalam isu nuklir.

Trump menyebut pencegahan Iran memperoleh senjata nuklir sebagai salah satu tujuan utama perang. Iran membantah ingin mengembangkan senjata nuklir dan mengatakan memiliki hak atas kapasitas energi nuklir domestik.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan Teheran siap berunding, tetapi menolak tekanan. "Iran tidak mencari perang, tetapi akan membela diri dari tekanan, ancaman, dan serangan," kata Pezeshkian kepada CBS.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan mediator Qatar belum secara resmi menyampaikan penolakan Washington terhadap proposal Iran. "Kami menunggu mediator menyampaikan pandangan definitif kepada kami, dan kami akan mengambil keputusan berdasarkan pandangan tersebut," kata Araghchi.

Ketidakpastian negosiasi disertai peringatan dari pejabat senior Iran mengenai konsekuensi jika tuntutan keamanan Teheran tidak terpenuhi.

Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan keamanan infrastruktur di kawasan bergantung pada jaminan keamanan bagi Iran.

"Di kawasan di mana kami tidak dapat menjual minyak, tidak seorang pun akan dapat menjual minyak; atau jika keamanan kami tidak dijamin, tidak ada infrastruktur yang akan tetap aman," kata Ghalibaf, menurut televisi pemerintah Iran.

Sementara itu, konflik telah mengganggu pasokan energi dan mendorong harga minyak. Iran menyerang sekutu AS di kawasan Teluk dengan drone dan rudal, sementara kelompok Houthi di Yaman menyerang kepentingan Saudi, menurut Reuters. Pergerakan Houthi di Yaman juga disebut mengancam ekspor minyak Saudi melalui Laut Merah.

Harga minyak Brent naik 1,4 persen menjadi 106,77 dolar AS per barel pada Selasa (29/9), sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 1,5 persen menjadi 93,94 dolar AS per barel.

Pembukaan kembali Selat Hormuz masih bergantung pada hasil pembicaraan melalui mediator. Iran mengatakan menunggu jawaban definitif Washington, sementara Trump membantah adanya tawaran AS untuk memberikan keringanan sanksi atau mencairkan aset Iran.