Jilid ini juga membahas ruang-ruang pelabuhan, muara, daerah aliran sungai, hingga kehidupan keseharian, alih-alih pusat kerajaan atau peradaban pada buku sejarah biasanya. Aktor kunci yang dibahas meliputi nakhoda, saudagar, rohaniawan, perajin, hingga perempuan yang membentuk identitas budaya dari bawah melalui praktik hidup sehari-hari.

Dr Ninie Susanti Tejowasono, MHum, Universitas Indonesia

Dr Wanny Rahardjo Wahyudi, MHum, Universitas Indonesia

Jilid ketiga membahas sejarah Islamisasi Nusantara sejak abad ke-7 hingga ke-17 M, menegaskan posisi strategis kepulauan sebagai kawasan penting jaringan maritim global yang terhubung erat dengan peradaban Timur Tengah.

Narasi pada jilid ini didasarkan pada sintesis temuan arkeologis terbaru di Situs Bongal hingga kajian manuskrip kuno. Sejumlah sejarah yang dibahas tim redaksi lain evolusi komunitas pedagang Muslim di bandar kosmopolitan menjadi entitas politik kesultanan yang berdaulat seiring meredupnya kekuasaan Sriwijaya dan Majapahit. Integrasi ekonomi di Samudra Hindia mendorong para warga elite lokal mengadopsi Islam yang tidak sekadar karena transisi teologis, tetapi menjadi strategi politik canggih untuk legitimasi kekuasaan, diplomasi internasional, dan unifikasi wilayah, yang nantinya melahirkan institusi negara yang kokoh dan berwawasan luas.

Jilid ketiga juga menyoroti akulturasi kreatif yang memadukan ajaran Islam dengan kearifan lokal, dengan peninggalan mulai dari arsitektur masjid, seni nisan, hingga tradisi literasi beraksara Jawi dan Pegon yang mendukung intelektualitas bangsa. Strategi kebudayaan Wali Songo di Jawa hingga jaringan ulama di Sumatera juga dijabarkan dalam penggambaran Islam Nusantara yang adaptif, toleran, dan berkebudayaan tinggi dalam merespons tantangan zaman.

Prof Dr Oman Fathurrahman, MHum, UIN Syarif Hidayatulllah Jakarta

Prof Usep Abdul Matin, MA, PhD, UIN Syarif Hidayatulllah Jakarta

Jilid keempat menunjukkan interaksi dinamis tim redaksi kekuatan lokal dan bangsa-bangsa Barat pada periode modern awal, abad ke-16 hingga ke-18. Didorong oleh pencarian komoditas rempah-rempah unggulan seperti cengkih, pala, dan lada, bangsa Eropa dimulai dari Portugis, kemudian disusul kongsi dagang raksasa VOC memasuki kepulauan Nusantara.

Jilid ini juga membahas pembangunan kekuasaan VOC dengan hak oktroi, pembentukan Batavia sebagai simpul dagang Asia, dan penguatan pengaruh Islam melalui jaringan intelektual dan transmisi ilmu pengetahuan seiring arus globalisasi.

Jilid keempat juga menyoroti bagaimana kekuatan-kekuatan besar Nusantara termasuk Aceh, Mataram, dan Gowa-Tallo melancarkan resistensi terhadap upaya monopoli VOC, yang berujung pada konflik dan peperangan terbuka. Sedangkan pada saat yang sama, kepentingan politik dan ekonomi turut menciptakan aliansi antarlokal dan Barat-Nusantara.