Dari situ, lahir masyarakat kosmopolitan hybrid di kota-kota pelabuhan, membentuk budaya baru seperti Indisch, dan menjadikan menjadikan Bahasa Melayu sebagai lingua franca pemersatu yang menjadi cikal bakal bahasa nasional.

Dr Bondan Kanumoyoso, MHum, Universitas Indonesia

Dr Phil Zacky Khairul Umam, Universitas Islam Internasional Indonesia

Jilid kelima membahas periode abad ke-18 hingga awal abad ke-20, yakni saat Nusantara bertransformasi dari wilayah kekuasaan kongsi dagang VOC yang kolaps menjadi sebuah entitas politik baru yang disebut negara kolonial. Belanda yang mengambil alih kendali segera mengatur pemusatan administrasi dan ekspansi wilayah besar-besaran untuk membentuk negara kolonial modern, berikut dengan sistem hukum, birokrasi, dan sekolah sebagai alat kontrol baru.

Jilid ini juga membahas penerapan sistem eksploitatif tanam paksa dan ekonomi liberal yang mendorong segregasi sosial dan struktur sosial baru, sehingga penduduk pribumi ditempatkan di bawah lapisan sosial terendah.

Untuk itu, jilid ini menyoroti resistensi masyarakat mulai dari perlawanan bersenjata dalam skala besar seperti Perang Diponegoro dan Perang Aceh, serta perlawanan nonmiliter seperti gerakan sosial, media, dan karya sastra. Buku kelima seri Sejarah Indonesia ini juga menunjukkan bagaimana pendidikan kolonial yang semestinya melayani kebutuhan birokrasi tidak sengaja menghasilkan elit pribumi terpelajar yang menyebarkan gagasan kebangsaan di ruang publik melalui pers.

Perubahan tersebut kemudian membentuk benih-benih kesadaran nasional dan fondasi Pergerakan Nasional.

Prof Dr Sarkawi B Husain, MHum, Universitas Airlangga

Prof Dr Agus Suwignyo, MA, Universitas Gadjah Mada

Bagi yang ingin membaca atau mengunduh seri Sejarah Indonesia jilid 1-5, buat akun di https://pustakabudaya.id, cari buku seri Sejarah Indonesia, kemudian pinjam atau unduh.