NADIKABAR.COM — Lima jilid buku seri Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global resmi dirilis Kementerian Kebudayaan di Jakarta pada Senin (31/8/2026). Buku Sejarah Indonesia ini bisa dibaca dan diunduh atau download gratis melalui https://pustakabudaya.id.
"Kita luncurkan lima pertama terlebih dahulu dahulu, sisa selanjutnya 6-11 tergantung, berapa lama Pak Dirjen? September-Oktober," kata Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Gedung A Kemendikdasmen, Jl Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta.
Sebanyak 123 pakar yang terdiri dari penulis, editor jilid, dan editor umum dari 34 perguruan tinggi dan 11 lembaga nonperguruan tinggi terlibat dalam penulisan seri Sejarah Indonesia. Mereka berlatar sejarawan, arkeolog, filolog, epigraf, dan peneliti di Indonesia.
Editor umum Sejarah Indonesia terbaru ini meliputi Prof Dr Susanto Zuhdi MHum dari Universitas Indonesia, Prof Dr Singgih Tri Sulistiyono dari Universitas Diponegoro, dan Prof Dr Jajat Burhanudin MA dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Buku-buku sejarah ini memiliki ratusan hingga ribuan halaman pada setiap jilid. Sebelum membaca, peminat buku Sejarah Indonesia bisa melihat dulu preview buku per jilid yang tersedia di situs Pustaka Budaya.
Sebagai alternatif, simak ringkasan isi buku Seri Sejarah Indonesia terbaru ini.
Jilid pertama Sejarah Indonesia menarasikan ulang Nusantara sebagai laboratorium evolusi manusia yang dinamis, hingga tempat hidup spesies manusia purba secara berdampingan seperti Homo erectus hingga Homo floresiensis. Jilid ini menunjukkan fakta-fakta membanggakan seperti leluhur Nusantara merupakan pihak yang aktif membentuk sejarah dunia, dengan warisan nilai maritim dan ekologis yang masih sangat relevan hingga hari ini.
Prof Dr R Cecep Eka Permana, MSi, Universitas Indonesia
Prof Dr Akin Duli, MA, Universitas Hasanuddin
Jilid kedua menggambarkan bahwa sejak awal milenium pertama, Nusantara adalah entrepot atau pos perlintasan kapal kosmopolitan dan simpul maritim yang aktif, serta menjadi tempat pertukaran ide, teknologi, dan ritus global.
Jilid ini juga coba menunjukkan local genius Nusantara yang berperan sebagai mesin pengayaan budaya. Unsur asing tidak ditiru, melainkan diseleksi, disintesis, dan distandardisasi menjadi bentuk-bentuk khas lokal. Contohnya, Borobudur memadukan kosmologi Buddha dengan lanskap agraris Jawa, dan Sriwijaya menjadi komunitas belajar dan pusat niaga yang menarik di Samudra Hindia.
Jilid ini juga membahas ruang-ruang pelabuhan, muara, daerah aliran sungai, hingga kehidupan keseharian, alih-alih pusat kerajaan atau peradaban pada buku sejarah biasanya. Aktor kunci yang dibahas meliputi nakhoda, saudagar, rohaniawan, perajin, hingga perempuan yang membentuk identitas budaya dari bawah melalui praktik hidup sehari-hari.
Dr Ninie Susanti Tejowasono, MHum, Universitas Indonesia
Dr Wanny Rahardjo Wahyudi, MHum, Universitas Indonesia
Jilid ketiga membahas sejarah Islamisasi Nusantara sejak abad ke-7 hingga ke-17 M, menegaskan posisi strategis kepulauan sebagai kawasan penting jaringan maritim global yang terhubung erat dengan peradaban Timur Tengah.
Narasi pada jilid ini didasarkan pada sintesis temuan arkeologis terbaru di Situs Bongal hingga kajian manuskrip kuno. Sejumlah sejarah yang dibahas tim redaksi lain evolusi komunitas pedagang Muslim di bandar kosmopolitan menjadi entitas politik kesultanan yang berdaulat seiring meredupnya kekuasaan Sriwijaya dan Majapahit. Integrasi ekonomi di Samudra Hindia mendorong para warga elite lokal mengadopsi Islam yang tidak sekadar karena transisi teologis, tetapi menjadi strategi politik canggih untuk legitimasi kekuasaan, diplomasi internasional, dan unifikasi wilayah, yang nantinya melahirkan institusi negara yang kokoh dan berwawasan luas.
Jilid ketiga juga menyoroti akulturasi kreatif yang memadukan ajaran Islam dengan kearifan lokal, dengan peninggalan mulai dari arsitektur masjid, seni nisan, hingga tradisi literasi beraksara Jawi dan Pegon yang mendukung intelektualitas bangsa. Strategi kebudayaan Wali Songo di Jawa hingga jaringan ulama di Sumatera juga dijabarkan dalam penggambaran Islam Nusantara yang adaptif, toleran, dan berkebudayaan tinggi dalam merespons tantangan zaman.
Prof Dr Oman Fathurrahman, MHum, UIN Syarif Hidayatulllah Jakarta
Prof Usep Abdul Matin, MA, PhD, UIN Syarif Hidayatulllah Jakarta
Jilid keempat menunjukkan interaksi dinamis tim redaksi kekuatan lokal dan bangsa-bangsa Barat pada periode modern awal, abad ke-16 hingga ke-18. Didorong oleh pencarian komoditas rempah-rempah unggulan seperti cengkih, pala, dan lada, bangsa Eropa dimulai dari Portugis, kemudian disusul kongsi dagang raksasa VOC memasuki kepulauan Nusantara.
Jilid ini juga membahas pembangunan kekuasaan VOC dengan hak oktroi, pembentukan Batavia sebagai simpul dagang Asia, dan penguatan pengaruh Islam melalui jaringan intelektual dan transmisi ilmu pengetahuan seiring arus globalisasi.
Jilid keempat juga menyoroti bagaimana kekuatan-kekuatan besar Nusantara termasuk Aceh, Mataram, dan Gowa-Tallo melancarkan resistensi terhadap upaya monopoli VOC, yang berujung pada konflik dan peperangan terbuka. Sedangkan pada saat yang sama, kepentingan politik dan ekonomi turut menciptakan aliansi antarlokal dan Barat-Nusantara.
Dari situ, lahir masyarakat kosmopolitan hybrid di kota-kota pelabuhan, membentuk budaya baru seperti Indisch, dan menjadikan menjadikan Bahasa Melayu sebagai lingua franca pemersatu yang menjadi cikal bakal bahasa nasional.
Dr Bondan Kanumoyoso, MHum, Universitas Indonesia
Dr Phil Zacky Khairul Umam, Universitas Islam Internasional Indonesia
Jilid kelima membahas periode abad ke-18 hingga awal abad ke-20, yakni saat Nusantara bertransformasi dari wilayah kekuasaan kongsi dagang VOC yang kolaps menjadi sebuah entitas politik baru yang disebut negara kolonial. Belanda yang mengambil alih kendali segera mengatur pemusatan administrasi dan ekspansi wilayah besar-besaran untuk membentuk negara kolonial modern, berikut dengan sistem hukum, birokrasi, dan sekolah sebagai alat kontrol baru.
Jilid ini juga membahas penerapan sistem eksploitatif tanam paksa dan ekonomi liberal yang mendorong segregasi sosial dan struktur sosial baru, sehingga penduduk pribumi ditempatkan di bawah lapisan sosial terendah.
Untuk itu, jilid ini menyoroti resistensi masyarakat mulai dari perlawanan bersenjata dalam skala besar seperti Perang Diponegoro dan Perang Aceh, serta perlawanan nonmiliter seperti gerakan sosial, media, dan karya sastra. Buku kelima seri Sejarah Indonesia ini juga menunjukkan bagaimana pendidikan kolonial yang semestinya melayani kebutuhan birokrasi tidak sengaja menghasilkan elit pribumi terpelajar yang menyebarkan gagasan kebangsaan di ruang publik melalui pers.
Perubahan tersebut kemudian membentuk benih-benih kesadaran nasional dan fondasi Pergerakan Nasional.
Prof Dr Sarkawi B Husain, MHum, Universitas Airlangga
Prof Dr Agus Suwignyo, MA, Universitas Gadjah Mada
Bagi yang ingin membaca atau mengunduh seri Sejarah Indonesia jilid 1-5, buat akun di https://pustakabudaya.id, cari buku seri Sejarah Indonesia, kemudian pinjam atau unduh.