Pemerintah negara-negara Teluk dilaporkan tidak meyakini klaim Tel Aviv tersebut.
Bagi sebagian pejabat AS, menurut laporan NYT, informasi intelijen dari Israel itu mendorong mereka untuk membandingkan situasi ini dengan penilaian intelijen yang keliru mengenai senjata pemusnah massal yang memicu invasi militer AS ke Irak pada tahun 2003 silam.
Perdebatan mengenai informasi intelijen itu muncul saat Washington sedang mempertimbangkan risiko eskalasi lebih lanjut dengan Iran, di mana setiap potensi respons militer akan membawa konsekuensi signifikan bagi keamanan kawasan Timur Tengah.
Perbedaan pendapat ini menyoroti tantangan yang dihadapi para pembuat kebijakan AS dalam upaya memilah peringatan intelijen yang kredibel dari klaim-klaim yang berpotensi mempengaruhi pengambilan keputusan terkait tindakan militer mereka.