NADIKABAR.COM — Israel telah membagikan informasi intelijen kepada Amerika Serikat (AS) yang menyatakan Iran bersiap menggunakan senjata kimia terhadap pihak-pihak yang dianggap sebagai musuhnya. Namun informasi intelijen Tel Aviv ini diberikan tanpa bukti pendukung, yang membuat sejumlah pejabat Washington meragukannya.
Laporan media terkemuka AS, New York Times (NYT), yang mengutip sejumlah sumber pejabat AS dan pejabat kawasan Teluk, seperti dilansir Al Arabiya dan Anadolu Agency, Rabu (4/11/2026), mengungkapkan bahwa Israel memberitahu AS jika Iran mempertimbangkan penggunaan senjata kimia terhadap musuhnya.
Informasi intelijen dari Israel itu, menurut laporan NYT, menimbulkan kekhawatiran di Washington, namun juga memicu perbedaan pendapat di kalangan pejabat AS. Sejumlah pejabat dalam pemerintahan Presiden AS Donald Trump mempertanyakan kredibilitas klaim tersebut dan motif Israel di balik informasi tersebut.
Pihak-pihak tertentu di Washington merasa skeptis mengenai apakah Teheran benar-benar bersiap untuk mengerahkan senjata kimia.
Meskipun badan-badan intelijen AS telah lama memantau kemampuan senjata kimia Iran, laporan NYT menyebutkan bahwa para pejabat Washington berbeda pendapat mengenai apakah Teheran memiliki kapasitas untuk mengerahkan senjata semacam itu secara efektif, atau apakah mereka akan memilih untuk menggunakannya.
Beberapa pejabat AS, sebut laporan NYT, mencurigai klaim Israel itu sebagai bagian dari upaya pemerintahan Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu untuk membujuk Trump agar kembali melancarkan operasi militer berskala besar terhadap Iran.
Meskipun beberapa pihak lainnya berpendapat bahwa peringatan semacam itu harus ditanggapi dengan serius.
Kekhawatiran tersebut juga telah disampaikan kepada negara-negara Teluk. Namun, seorang pejabat regional mengungkapkan kepada NYT bahwa para pejabat Israel menyampaikan penilaian yang menyatakan Iran sedang berupaya agar senjata kimianya siap digunakan, tanpa menyertakan bukti pendukung.
Pemerintah negara-negara Teluk dilaporkan tidak meyakini klaim Tel Aviv tersebut.
Bagi sebagian pejabat AS, menurut laporan NYT, informasi intelijen dari Israel itu mendorong mereka untuk membandingkan situasi ini dengan penilaian intelijen yang keliru mengenai senjata pemusnah massal yang memicu invasi militer AS ke Irak pada tahun 2003 silam.
Perdebatan mengenai informasi intelijen itu muncul saat Washington sedang mempertimbangkan risiko eskalasi lebih lanjut dengan Iran, di mana setiap potensi respons militer akan membawa konsekuensi signifikan bagi keamanan kawasan Timur Tengah.
Perbedaan pendapat ini menyoroti tantangan yang dihadapi para pembuat kebijakan AS dalam upaya memilah peringatan intelijen yang kredibel dari klaim-klaim yang berpotensi mempengaruhi pengambilan keputusan terkait tindakan militer mereka.