NADIKABAR.COM — Israel dilaporkan sedang mempersiapkan aksi militer terbaru terhadap Iran, saat perang Timur Tengah berlarut-larut. Serangan terbaru Israel itu bisa dilancarkan secara terkoordinasi dengan sekutunya, Amerika Serikat (AS), atau bisa dilaksanakan secara mandiri.
Laporan surat kabar terkemuka Israel Hayom, seperti dilansir Middle East Monitor, Selasa (6/10/2026), menyebutkan bahwa militer Israel sedang bersiap untuk potensi serangan terhadap Iran, sembari terus menjalin kerja sama intelijen dan operasional yang erat dengan militer AS.
Menurut Israel Hayom, pasukan Israel juga bersiap untuk kemungkinan tindakan pre-emptive (pendahuluan) atau respons terhadap serangan Iran.
Disebutkan juga oleh Israel Hayom dalam laporannya bahwa kecil kemungkinannya terjadi serangan Israel atau AS sebelum pemilu sela digelar oleh Washington pada November mendatang.
Israel Hayom menambahkan bahwa Israel terus memandang program nuklir Iran sebagai masalah yang sangat memprihatinkan.
Secara terpisah, situs berita Israel lainnya, Walla, melaporkan pada Minggu (4/10) bahwa AS bersiap mengirimkan tambahan pasukan dan pesawat militer ke Israel dalam beberapa minggu mendatang, di tengah persiapan menghadapi kemungkinan eskalasi konflik di Timur Tengah.
Mengutip sumber keamanan yang tidak disebut namanya, Walla melaporkan bahwa sekitar 3.000 personel militer AS saat ini dikerahkan di berbagai wilayah Israel, termasuk pasukan yang mengoperasikan sistem pertahanan udara, serta pilot, awak pendukung, dan personel logistik.
Laporan Walla juga menyebutkan bahwa tambahan pasukan dan pesawat AS diperkirakan akan tiba dalam beberapa pekan ke depan, seiring langkah Washington memperkuat kehadiran militer di kawasan tersebut.
Masih menurut laporan Walla, militer Israel terus melakukan persiapan untuk kemungkinan konfrontasi terbaru dengan Iran atau memburuknya ketegangan regional secara cepat, sembari menjaga koordinasi erat dengan Komando Pusat AS (CENTCOM) yang mengawasi operasi militer di Timur Tengah.
Laporan ini muncul setelah Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Abbas Araghchi, mengatakan pada Minggu (4/10) bahwa Teheran siap untuk terus menempuh jalur diplomasi demi mencapai apa yang disebutnya sebagai "solusi yang adil".
Iran telah mengajukan tujuh syarat terkait pembukaan kembali Selat Hormuz kepada AS, melalui mediator Qatar, dalam pertemuan terbaru di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York pada akhir September lalu.
Presiden AS Donald Trump menolak tawaran itu, dengan menyatakan bahwa Washington tidak dapat menerima syarat-syarat yang diajukan Teheran.