NADIKABAR.COM — Laporan terbaru mengenai kondisi di Jalur Gaza menyebut sekitar 1,8 juta warga Palestina di Gaza, atau 86 persen dari populasi, yang tinggal di lokasi-lokasi pengungsian kerap menghadapi kondisi hidup yang tidak manusiawi.

Danish Refugee Council (DRC) menerbitkan temuan tersebut pada Kamis (1/10), hampir tiga tahun setelah serangan Hamas 7 Oktober terhadap Israel yang memicu perang di Gaza, dan setahun setelah rencana gencatan senjata bertahap pada 10 Oktober yang semestinya mengakhiri perang.

"Gencatan senjata Oktober 2025 di Gaza seharusnya mengakhiri penderitaan warga sipil. Hampir setahun kemudian, gencatan senjata itu sebagian besar hanya ada dalam nama. Pengungsian di Gaza belum berakhir; bentuknya yang berubah," demikian laporan tersebut.

Temuan itu didasarkan pada diskusi kelompok dengan 195 orang yang tinggal di kamp-kamp pengungsian internal di lima wilayah administratif di Gaza.

Laporan berjudul Confined by Design: The Human Cost of Protracted Displacement in Gaza itu menuding Israel menerapkan "kebijakan pengungsian berkepanjangan" sejak kesepakatan gencatan senjata tercapai.

Menurut DRC, salah satu cara untuk memastikan hal itu berlangsung adalah melalui apa yang disebut "Garis Kuning". Garis tersebut menandai wilayah Gaza bagian timur di dekat perbatasan yang berada di bawah kendali militer Israel dan, menurut laporan itu, terus bergeser ke arah pantai.

"Selain pengungsian berkepanjangan terhadap ratusan ribu orang, ciri utama dari apa yang disebut gencatan senjata adalah Garis Kuning yang terus meluas ke arah barat dan menelan lebih banyak wilayah, secara efektif menyempitkan ruang bagi keluarga menjadi 30 persen dari wilayah Gaza," kata Direktur DRC untuk wilayah Palestina yang diduduki, Alan Moseley.

Kelompok lain, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), juga melaporkan pergeseran Garis Kuning ke arah barat. Pemerintah Israel pun menyampaikan hal serupa, meski sejumlah rinciannya berbeda.