Bulan lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut wilayah Gaza yang berada di dalam Garis Kuning mencapai 60 persen, bukan 70 persen. Namun dia juga mengatakan rencananya adalah memperluas wilayah tersebut.

Laporan DRC juga menyebut organisasi-organisasi bantuan "menggambarkan ketidakmampuan mereka beroperasi dalam radius beberapa kilometer dari garis tersebut, baik karena keterbatasan akses maupun persoalan keamanan".

Kondisi itu, menurut laporan, menyebabkan bantuan dan pasokan penting gagal mencapai kamp-kamp pengungsian yang berada lebih dekat dengan garis tersebut.

DRC dan Agricultural Development Association (PARC) menyoroti serangkaian kekurangan serius di tempat-tempat pengungsian yang umumnya berupa tenda informal dan kamp-kamp darurat. Tempat-tempat itu bermunculan di tengah reruntuhan Gaza, dan diyakini menjadi tempat tinggal lebih dari delapan dari setiap sepuluh penduduk.

Laporan itu memperingatkan meningkatnya risiko kekerasan dalam rumah tangga. Penyebabnya antara lain keterbatasan dan penggunaan fasilitas secara bersama-sama, serta memburuknya kesehatan mental laki-laki dewasa dalam kondisi tersebut.

DRC juga memberi perhatian khusus pada minimnya mekanisme pengelolaan di lokasi-lokasi pengungsian.

Menurut laporan tersebut, hanya 36 persen lokasi yang saat ini memiliki pengelola khusus. Umumnya pengelola itu berasal dari lembaga swadaya masyarakat nasional yang bertugas mengoordinasikan layanan dan mengelola kondisi di lokasi pengungsian.

Lokasi yang memiliki mitra semacam itu "mempunyai saluran komunitas yang terstruktur untuk mengidentifikasi, meneruskan, dan menyelesaikan persoalan seperti lubang penampungan tinja yang ambruk, pengiriman air yang tidak tersedia, atau jalur pejalan kaki yang tidak aman", demikian laporan tersebut.