NADIKABAR.COM — Militer Israel melancarkan serangan terbaru terhadap Jalur Gaza pada Rabu (7/10) waktu setempat, yang bertepatan dengan peringatan tiga tahun perang yang berkecamuk di daerah kantong Palestina tersebut. Sedikitnya dua orang tewas akibat gempuran Israel tersebut.
Rentetan suara ledakan keras dari arah Jalur Gaza, seperti dilansir AFP, Rabu (7/10/2026), terdengar hingga ke lokasi festival musik Nova, tepat saat pihak keluarga korban berkumpul pada waktu fajar untuk mengenang lebih dari 300 orang yang tewas tiga tahu lalu, saat serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.
Serangan Hamas itu memicu perang, dengan militer Israel melancarkan rentetan serangan tanpa henti di wilayah Jalur Gaza.
Bahkan saat peringatan tiga tahun perang berkecamuk, Israel masih terus menggempur Jalur Gaza. Laporan otoritas Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza menyebutkan sedikitnya dua orang tewas akibat serangan udara Israel yang terjadi semalam sebelumnya.
Otoritas pertahanan sipil Gaza mengidentifikasi salah satu korban tewas sebagai Mohamed Tamous. Dia disebut sebagai relawan otoritas pertahanan sipil Gaza, yang berfungsi sebagai layanan penyelamatan darurat di bawah Hamas yang berkuasa di Jalur Gaza.
Gempuran terbaru Israel itu terjadi saat para korban selamat dan keluarga korban serangan Hamas menggelar momen mengheningkan cipta di lokasi-lokasi di Israel bagian selatan yang diserang oleh Hamas tiga tahun lalu.
Di lokasi festival musik Nova, salah satu lokasi serangan Hamas yang menggunakan mobil dan paralayang, keluarga para korban menundukkan kepala mereka pada Rabu (7/10) pagi, sekitar pukul 06.29 waktu setempat. Deretan foto para korban yang dihiasi bunga dipajang di lokasi.
Serangan mengejutkan Hamas pada 7 Oktober 2023 lalu, menurut penghitungan AFP berdasarkan data resmi Tel Aviv, menewaskan sebanyak 1.221 warga Israel.
Militan Hamas juga membawa paksa 251 orang sandera ke wilayah Jalur Gaza, dengan 44 orang di antaranya sudah dalam keadaan tewas.
Para sandera terakhir yang masih hidup telah dibebaskan setahun lalu, sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat (AS). Gencatan senjata itu menghentikan pertempuran antara Israel dan Hamas.
Hamas tidak lagi menyerang Israel, namun Tel Aviv tidak sepenuhnya menghentikan serangan terhadap Gaza.
Berdasarkan data otoritas kesehatan yang dianggap kredibel oleh PBB, lebih dari 74.200 orang tewas akibat rentetan serangan Israel terhadap Jalur Gaza. Gempuran tanpa henti Tel Aviv itu memaksa hampir separuh penduduk Gaza mengungsi dan meluluhlantakkan daerah kantong Palestina tersebut.
Baru-baru ini, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan dirinya telah menempatkan militer dalam status siaga tinggi "menyusul adanya informasi intelijen mengenai niat Hamas untuk melancarkan serangan" terhadap tentara Israel di Gaza saat peringatan perang tersebut.