"Alat ini merupakan instrumen untuk pengukuran kualitas udara ambien, sehingga tidak bisa secara langsung mengatakan partikulat yang terukur berasal dari abu vulkanik. Namun, kita dapat memprediksi apakah lokasi yang menjadi reseptor terpengaruh oleh abu vulkanik atau tidak," jelas Novi.
Dalam pemantauan ini, tim menggunakan beberapa metode dan instrumen. Pengukuran PM10 dan PM2.5 di luar ruangan dilakukan menggunakan High Volume Air Sampling (HVAS), sedangkan partikulat di dalam ruangan menggunakan Low Volume Air Sampling (LVAS). Pengukuran gas SO₂ dan NO₂ dilakukan dengan metode impinger, sementara CO dan CO₂ dipantau menggunakan sistem berbasis sensor.
Penempatan alat telah mempertimbangkan standar pengukuran udara ambien, keamanan, dan ketersediaan sumber listrik karena pemantauan dilakukan secara aktif dan kontinu. Alat juga dipasang di dalam ruangan untuk melihat sejauh mana udara ambien masuk dan memengaruhi kualitas udara di dalam bangunan.
Novi menyampaikan parameter gas masih tergolong aman untuk dampak akut. Namun, kondisi berbeda ditemukan pada partikulat dalam ruangan.