"Pemanfaatan dua jenis elektrolit yang berbeda itu berfungsi dalam mengoptimalkan reaksi kimia tim redaksi logam aluminium dan oksigen udara," kata Heru dikutip dari ITS.
Saat ini, satu modul prototipe AluBayu terdiri dari 20 sel berukuran kompak yakni 4×6 cm dengan bobot sekitar 20,2 gram. Modul tersebut dijelaskan mampu menghasilkan tegangan nominal sekitar 11,6 volt dengan nilai arus dan daya eksisting sekitar 0,15 mA. Dengan spesifikasi tersebut, baterai ini dinilai memiliki prospek utilitas yang sangat tinggi untuk aplikasi spesifik.
Selain itu, inovasi teknologi ini mendapat dukungan pendanaan oleh PT Pertamina Persero dalam hal pengembangan strategis untuk mendukung kemandirian teknologi nasional. Bahkan, badan usaha milik negara tersebut bersedia mendukung pengembangan AluBayu hingga masuk ke tahap hilirisasi.
"Dengan keunggulan yang ringan dan berbasis bahan baku ramah lingkungan, AluBayu sangat potensial untuk diaplikasikan pada perangkat penunjang darurat," kata Haryo Satria, Senior Specialist Technology Innovation Downstream dan New Energy PT Pertamina Persero, dikutip dari ITS.