NADIKABAR.COM — Integrasi pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dengan energi baru terbarukan (EBT) memerlukan pembangkit penyeimbang untuk menjaga kestabilan pasokan listrik nasional, mengingat karakteristik produksi listrik dari masing-masing sumber energi memiliki pola operasi berbeda.

"PLTN dirancang sebagai pembangkit beban dasar yang memasok listrik secara stabil dalam jangka panjang, sedangkan pembangkit energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin memiliki produksi yang bergantung pada kondisi alam," kata Guru Besar Bidang Pengoperasian Sistem Tenaga Listrik Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Rony Seto Wibowo di Surabaya, Jumat.

Rony menjelaskan, PLTN memiliki kemampuan menghasilkan listrik secara konsisten dengan perubahan daya yang relatif terbatas sehingga dapat beroperasi hingga sekitar dua tahun tanpa penghentian bergantung pada siklus operasional dan pemeliharaan reaktor.

Sementara pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) termasuk kategori variable renewable energy (VRE) karena produksi listriknya dapat berubah mengikuti intensitas matahari maupun kecepatan angin.

Menurut Rony, pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dapat menjalankan fungsi sebagai pembangkit penyeimbang atau load follower karena memiliki fleksibilitas untuk menaikkan dan menurunkan produksi listrik dalam waktu relatif cepat.

Ia menjelaskan, pembangkit-pembangkit yang berbasis gas penting untuk melengketkan antara PLTN yang baseload dengan PLTS dan PLTB.

"Itu karena pembangkit yang berbasis gas bisa naik turun dengan cepat, atau bisa mati hidup dengan cepat juga. Jadi yang biarlah PLTN tetap lurus, tapi gas atau PLTA itu bagian naik turun. Karena listrik itu supply dan demand harus sama setiap detik," ujarnya.

Ia menilai pengaturan kombinasi pembangkit tersebut menjadi penting karena keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan listrik harus terjaga setiap saat agar sistem kelistrikan tetap andal dan kebutuhan masyarakat maupun industri dapat terpenuhi.

Namun, pemanfaatan pembangkit gas sebagai penyeimbang juga perlu memperhatikan ketersediaan cadangan gas alam nasional agar kebutuhan energi selama masa transisi dapat dipenuhi secara berkelanjutan.

Rony menyebut cadangan terbukti gas Indonesia saat ini sekitar 0,5 persen dari total cadangan gas dunia, sedangkan jumlah penduduk Indonesia mencapai sekitar 3,5 persen dari populasi dunia.

Ia mencontohkan, pentingnya ketahanan energi melalui kebijakan Singapura yang mulai mempertimbangkan pengembangan energi nuklir setelah Indonesia melakukan pengurangan pasokan ekspor gas ke negara tersebut.

"Pada waktu gasnya itu dikecilkan oleh Indonesia, maka Singapura langsung, Perdana Menterinya langsung ya akan membangun nuklir. Itulah pentingnya energy security di situ," ujarnya.

Oleh sebab itu, ia mengingatkan perlunya pengelolaan cadangan gas secara cermat agar dapat mendukung kebutuhan pembangkit penyeimbang selama proses peralihan menuju sistem energi rendah emisi.