NADIKABAR.COM — Perusahaan keamanan siber ITSEC menilai peralihan transaksi keuangan ke layanan digital mengubah pola kejahatan terhadap sektor perbankan, dari perampokan fisik menjadi serangan siber yang menyasar sistem bank hingga akun bank digital nasabah.

President Director ITSEC Asia Patrick Dannacher mengatakan pelaku kejahatan kini menyasar layanan keuangan digital karena semakin banyak masyarakat bertransaksi menggunakan ponsel pintar dan aplikasi perbankan, dibandingkan mengambil uang tunai melalui anjungan tunai mandiri (ATM).

"Dahulu, perampok datang membawa senjata, membobol brankas bank, dan mengambil uang tunai. Sekarang, pola itu berevolusi menjadi serangan digital," kata Patrick dalam konferensi pers AICX 2026 di Jakarta, Jumat.

Patrick menjelaskan, bank melayani jutaan nasabah, mengoperasikan banyak kantor cabang, serta menggunakan sistem perbankan inti yang terintegrasi.

Kondisi tersebut membuat perlindungan sistem bank dari serangan siber menjadi pekerjaan yang tidak sederhana.

"Bank mempekerjakan ratusan bahkan ribuan karyawan. Menciptakan lingkungan yang sepenuhnya aman bagi institusi perbankan merupakan tantangan yang sangat masif, sama halnya dengan industri telekomunikasi dan sektor lainnya," kata Patrick.

Ia mengatakan pelaku kejahatan biasanya langsung menyerang sistem bank untuk memperoleh keuntungan besar. Dalam skala yang lebih kecil, pelaku kejahatan menargetkan nasabah melalui modus penipuan telepon dan rekayasa sosial.

Dalam modus tersebut, pelaku memanipulasi korban untuk mengikuti instruksi yang diberikan, kemudian menyedot isi rekeningnya setelah berhasil memengaruhi korban untuk membuka akses ke akun bank digitalnya.

Selain menyasar sektor keuangan untuk mendapatkan uang, serangan siber juga dapat menargetkan infrastruktur kritis. Patrick menyebut umumnya serangan siber tersebut disponsori oleh negara.

"Selain motif finansial pada bank dan bursa saham, ada pula serangan yang disponsori negara yang menyasar infrastruktur kritis," ujar Patrick.