Selain melakukan pendampingan, Kemenkes juga akan memasukkan sejumlah indikator dalam evaluasi rumah sakit.
Salah satu indikator yang akan diperhatikan adalah resistansi antimikroba atau antimicrobial resistance (AMR). AMR menjadi salah satu persoalan dalam layanan kesehatan karena dapat membuat infeksi lebih sulit ditangani ketika mikroorganisme menjadi kebal terhadap obat antimikroba.
"Tapi kita akan masukkan indikator-indikator seperti tadi. Misalnya indikator anti-microbial resistance. Itu kan agak indikator. Kita ukurnya benar-benar seperti itu," kata Menkes.
Dengan langkah tersebut, Kemenkes akan mendorong evaluasi yang lebih terukur terhadap rumah sakit, terutama fasilitas kesehatan yang tercatat memiliki angka kematian ibu dan bayi tinggi.
Tingginya angka kematian ibu dan bayi di Jabar menjadi perhatian karena provinsi ini disebut Menkes termasuk wilayah dengan angka tertinggi. Pemerintah pun menyiapkan pendampingan terhadap rumah sakit yang membutuhkan perbaikan, termasuk dalam aspek manajemen infeksi.
Atrtikel ini sebelumnya telah tayang di NadiKabar dengan judul "Menkes Soroti Angka Kematian Ibu-Bayi RI, Jabar Masuk Wilayah dengan Kasus Tertinggi". Cek artikel asli di sini.