"Nanti di tempat-tempat lain kita akan tanam ulang. Cuman mungkin waktunya menyesuaikan juga," pungkasnya.

Farhan mengatakan, pelaku dari penebangan pohon ilegal itu hanya satu orang. Dia merupakan vendor dari proyek videotron SixNine Padel yang kini telah disegel pemerintah.

"Pohon sudah ditanam kembali di Jalan Riau, tempat-tempat lain akan kita lakukan juga penegakan kedisiplinan dan juga penegakan peraturan," kata Farhan.

"Yang melakukannya, kalau yang kejadian di Jalan Riau, itu kan pelakunya sudah membayar denda. Itu adalah kontraktor dari videotron di belakangnya. Karena pemotongan pohon itu ada kaitannya dengan bisnis videotron tersebut, maka videotronnya yang kami segel," ungkapnya menambahkan.

Farhan menyatakan, pelaku penebangan pohon itu sudah membayar denda total Rp 100 juta, sesuai tindakan yang dia lakukan. Uang denda tersebut kemudian disetorkan ke kas daerah.

"Udah, makanya kemudian si 100 pohon itu kita konversi menjadi 10 bibit mahoni tinggi 5 meteran, diameter 30 sampai 40 cm. Kalau (denda) Rp 10 juta per pohon, itu masuk ke kas daerah," pungkasnya.

Sebuah jalan setapak di tim redaksi deretan makam mendadak menjadi perhatian setelah sebuah video berdurasi 43 detik viral di media sosial. Kamera dalam video itu menyusuri jalur sempit di kawasan pemakaman hingga akhirnya mengarah ke sebuah bangunan bertuliskan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Cigobang.

Potongan gambar tersebut sontak memunculkan kesan seolah-olah gedung koperasi berdiri di tengah kompleks pemakaman.

"Duh apa ini Kopdes. Kopdes ada di kuburan guys," ujar perempuan yang merekam video tersebut dalam rekaman yang beredar.

Video itu kemudian ramai diperbincangkan warganet. Pertanyaan mengenai lokasi pembangunan Kopdes Merah Putih Desa Cigobang, Kecamatan Pasaleman, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, pun bermunculan.

Namun, setelah ditelusuri langsung ke lokasi, kondisi sebenarnya ternyata tidak seperti kesan yang muncul dalam video. Gedung Kopdes Merah Putih Cigobang memang berada tidak jauh dari area pemakaman umum. Akan tetapi, bangunan tersebut tidak berdiri di tengah makam.

Kepala Desa atau Kuwu Cigobang, M Abdul Zei, menegaskan bahwa bangunan koperasi berada di lahan desa yang terpisah dari area pemakaman. Ia menyebut kesan Kopdes dibangun di dalam kompleks makam muncul karena video tersebut direkam dari jalur alternatif yang berada di kawasan pemakaman.

"Saya akan mengklarifikasi permasalahan yang viral di media sosial, yaitu di akun TikTok, bahwa jalan akses utama masuk ke KDMP Desa Cigobang lewat pemakaman itu salah besar. Dan lokasinya pun tidak ada di dalam area pemakaman," ujarnya, Rabu (2/9/2026).

Menurut Abdul Zei, jalan yang terlihat dalam video memang benar-benar ada dan dapat dilalui masyarakat. Namun, jalur tersebut bukan akses utama menuju gedung Kopdes.

Jalan itu merupakan jalur alternatif yang biasa digunakan warga, termasuk para pelajar, karena lokasinya berdekatan dengan fasilitas pendidikan.

"Jalan itu jalan alternatif untuk masyarakat, untuk anak-anak sekolah, karena berdekatan dengan sekolah," ucapnya.

Sementara akses utama menuju gedung Kopdes berada di sisi barat bangunan. Di lokasi tersebut terdapat jalan yang lebih besar dan menjadi jalan utama menuju gedung koperasi sekaligus akses menuju kawasan pertanian.

"Yang aslinya, jalan intinya itu ada di sebelah barat. Di jalan barat, sebelah KDMP-nya, itu ada jalan besar. Itu jalan utama untuk masuk ke akses KDMP Desa Cigobang," jelasnya.

Dengan demikian, jalur setapak yang terlihat dalam video bukanlah satu-satunya jalan menuju Kopdes.

Pengambilan gambar dari sudut tertentu membuat hubungan tim redaksi makam dan gedung koperasi terlihat seolah-olah jauh lebih dekat dari kondisi sebenarnya. Abdul Zei tidak membantah bahwa masyarakat dapat melewati jalan yang berada di kawasan pemakaman tersebut. Hanya saja, jalur itu memiliki ukuran yang lebih sempit sehingga hanya dapat digunakan oleh sepeda maupun sepeda motor.

"Kalau lewat situ bisa, tapi cuma bisa akses itu tim redaksi sepeda dan motor, kalau mobil tidak bisa," katanya.

Ia menjelaskan, dari arah Balai Desa Cigobang, warga dapat berjalan lurus hingga menemukan area pemakaman. Dari titik tersebut terdapat jalur yang berbelok ke arah kawasan makam.

"Sebenarnya dari pintu, dari balai desa itu lurus, ada pemakaman langsung belok kiri. Itu kan akses pemakaman, bukan jalan utama untuk ke KDMP kalau di situ," ujarnya.