"Tujuannya membuat menonton film terasa seperti menyaksikan pertunjukan langsung," ujar Marks dikutip dari RD (04/09/2026).
Pengelola saat itu tak ingin minuman lengket, tangan berminyak, atau butiran popcorn mengotori interior bioskop. Suara orang mengunyah juga dianggap mengganggu karena saat itu film masih bisu dan biasanya diiringi musisi secara langsung.
Keadaan mulai berubah setelah film bersuara populer pada akhir 1920-an dan krisis ekonomi atau Depresi Besar (The Great Depression) melanda di Amerika di era 1930-an.
Saat itu, menonton film menjadi salah satu hiburan yang paling terjangkau bagi orang-orang yang sedang kesulitan ekonomi. Popcorn turut menjadi camilan yang murah, yakni hanya dijual seharga 5 hingga 10 sen (Rp800 - Rp1.500) per kantong.
Memanfaatkan peluang ini, seorang wanita asal Kansas City bernama Julia Braden berhasil meyakinkan pemilik bioskop Linwood Theater untuk mengizinkannya membuka stan popcorn di area lobi bioskop.